PERUBAHAN WATAK BANGSA INDONESIA
Bagi para lansia
yang umurnya di atas 80 tahun, akan masih bisa ingat, karena ikut menjadi
pelakunya, yang ikut merasakan sendiri, ikut menyaksikan sendiri dan ikut
mengalami sendiri, berubahnya watak bangsa kita ini antara dulu sebelum tahun
1965 dengan sekarang sesudah tahun 1965. Dulu watak bangsa kita ini terkenal
sampai ke luar negeri, sebagai bangsa yang berbudipekerti luhur, ramah-tamah, cinta
damai, cinta saling menghormati, cinta saling menolong, berjiwa Nasionalis yang
sejati, berjiwa Pancasilais yang sejati, pecinta Bhineka yang sejati dan
seterusnya yang kesemuanya adalah yang serba terpuji. Tetapi sekarang telah berbalik
arah 180˚ berubah menjadi bangsa yang egois, sadis, fanatis, ekstrimis, bahkan
teroris dan seterusnya yang kesemuanya itu adalah yang serba tercela. Kejahatan
dan pembunuhan terjadi dimana-mana, nyawa manusia seperti tidak ada harganya,
sehingga kehidupan masyarakat menjadi resah, was-was, khawatir. Suasana Pemerintahan menjadi tidak
aman. Sebagaian besar dari para cerdik pandai, menyebutkan bahwa penyebab berubahnya watak bangsa kita ini adalah
karena banyaknya kemiskinan dan pengangguran. Tetapi menurut pendapat
para lansia yang ikut mengalami sendiri, ikut merasakan sendiri dan ikut menyaksikan
sendiri ini, alasan karena banyaknya kemiskinan dan pengangguran itu adalah
tidak tepat. Sebab kenyataanya dulu sejak bangsa kita ini masih dijajah oleh Belanda,
ganti dijajah oleh Jepang, sampai zaman merdeka di zaman Orde Lama-nya Bung
Karno, rakyat Indonesia ini adalah miskin semua, seluruh pemudanya pengangguran
semua, tetapi kehidupan masyarakatnya penuh dengan kerukunan dan kedamaian,
semangat gotong royongnya tinggi, semangat tolong menolong dan hormat
menghormatinya tinggi. Sekarang yang taraf kehidupan masyarakatnya sudah jauh
lebih baik dari pada waktu itu, malah watak bangsanya menjadi sangat tercela,
suka mengumbar hawa nafsu dan angkaranya. Jadi menurut pendapat para lansia ini
berubahnya watak bangsa kita Indonesia ini, tak lain dan tak bukan adalah
karena telah berubahnya pandangan hidup yang dianutnya. Pandangan hidup yang
lunak akan membentuk watak yang lunak, pandangan hidup yang keras akan membentuk watak yang keras
pula. Pandangan hidup yang mengikuti petunjuk Allah, akan membawa masyarakat ke
kehidupan yang aman damai dan tenteram, pandangan hidup yang menyimpang dari
petunjuk Allah, akan membawa msyarakat ke kehidupan yang suka berselisih saling
bermusuhan.
Sebelum tahun 1965 pandangan hidup bangsa kita
ini menganut paham Islam lama, sedang sesudah tahun 1965 pandangan hidup bangsa
kita ini menganut paham Islam baru. Perbedaan paham antara Islam lama dengan Islam baru
ini jauh
sekali, bahkan boleh dikatakan sangat berlawanan. Makanya sangat rawan untuk
timbul konflik. Untuk menghindari konflik ini, maka paham Islam lama banyak
mengalah,
tidak suka merperselisihkan perbedaan pendapat. Tetapi kalau lama-kelamaan
paham Islam baru semakin berani untuk memaksakan kehendaknya, sehingga paham Islam
lama menjadi semakin punah seperti sekarang ini, maka Pemerintah seharusnya
bertindak adil, semua harus diayomi, harus dilindungi, bukan seperti sekarang
ini, Pemerintah malah membantu berkembangnya paham Islam baru dan tidak peduli
terhadap nasib paham Islam lama yang dulu dipertahankan (dibela) oleh
pemerintah Orde Lama. Mestinya antara paham Islam baru dengan paham Islam lama
harus hidup berdampingan, saling menghormati, harus rela ada orang lain yang
punya paham lain. Sebab yang berhak
dan berwenang menilai kebenaran agama itu bukan sesama
manusia, juga
jangan Pemerintah, tetapi Allah
sendiri. Biar Allah sendiri
yang menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Antara kita wajibnya
saling menghormati. Pemerintah wajibnya
melindungi semua secara adil, jangan berat sebelah, jangan dibiarkan kalau ada
golongan yang memaksakan kehendaknya, jangan segan menindak tegas siapa yang
berani membuat onar merusak kerukunan.
Paham Islam lama ini sudah sejak ribuan tahun
yang lalu dianut dan dilestarikan oleh para Leluhur kita, bahkan juga oleh para
Leluhur-Leluhurnya umat di dunia ini. Sedang paham Islam baru ini, dulu ditentang
keberadaanya oleh para Leluhur
kita. Sebab
kata para Leluhur,
banyak paham yang justru bertentangan dengan isi Al-Quran sendiri, sehingga nantinya
akan merusak Islam sendiri dari dalam. Waktu itu para Leluhur kita telah
mengkhawatirkan dan meramalkan, jika paham Islam baru ini berkembang, nanti-nantinya
akan ada orang Islam yang kekejamannya melebihi kekejaman orang PKI. Dulu tahun
1947 pemberontakan PKI pecah di \Madiun. Orang-orang PKI dengan kejamnya
membunuh orang-orang yang tidak berdosa, yang mereka anggap sebagai musuh. Untung
pemberontakan itu masih bisa dipadamkan. Waktu itu yang namanya orang membunuh
orang, ini langka sekali terjadi, tidak seperti sekarang. Jadi kalau sekarang sudah ada orang Islam (Teroris) yang kekejamannya
melebihi kekejaman orang
PKI,
ini berarti kekhawatiran dan ramalan para Leluhur kita itu telah terbukti.
Dulu penganut paham Islam baru ini masih sedikit dan mengelompok dalam satu
partai, yaitu partai Masyumi. Cita-citanya ingin mendirikan negara Islam, yang
pahamnya adalah paham Islam baru seperti sekarang ini. Cita-cita ini banyak
ditentang oleh banyak partai. Bahkan partai NU sendiri sebagai partai Islam,
juga tidak setuju dengan cita-cita Masyumi ini, tetapi malah rukun dengan
partai-partai Nasional lainnya (PNI), ingin ikut mempertahankan negara yang
berdasar Pancasila.
Bukti bahwa dulu para leluhur kita pernah
menentang berkembangnya paham Islam baru ini, yaitu dalam musyawarah penyusunan
pembukaan UUD 1945. Paham Islam baru mengusulkan agar Sila Pertama dari
Pancasila ditambah kata-katanya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. Usulan ini ditolak
oleh para Leluhur kita yang kebanyakan adalah penganut paham Islam lama, sebab
dikhawatirkan nanti pasti akan terjadi adanya pemaksaan kehendak. Al Qur’an
sendiri melarang adanya pemaksaan dalam agama. Kalau usulan itu disetujui, nanti
pasti akan timbul pemaksaan kehendak yaitu orang yang mengaku Islam akan dipaksa
supaya sholat, supaya zakat, fitrah, amal dan lain-lain. Pada waktu itu istilah
orang Islam harus shalat
ini hanya berlaku dikalangan paham Islam baru saja. Paham Islam lama masih menentangnya
dan Pemerintah masih di pihak Islam lama. Akhirnya usulan itu gagal dan Sila Pertama dari Pancasila tetap berbunyi
“Ketuhanan Yang Maha Esa” begitu saja sampai sekarang. Jadi perjuangan agar rencana
pemaksaan kehendak ini bisa
dipayungi hukum, tetap tidak berhasil.
Tetapi sayang,
pemberontakan PKI Tahun 1947 yang masih bisa digagalkan, pada tahun 1965
meletus lagi yang lebih dahsyat dan yang sepertinya memberi peluang emas bagi
paham Islam baru untuk melaksanakan pemaksaan kehendaknya demi terwujudnya Negara
Islam seperti yang dicita-citakannya. Pada waktu itu semua partai menyetujui
jika partai PKI dibubarkan dan dilarang untuk di Indonesia. Paham Islam baru mulai tampil untuk
memanfaatkan situasi guna memaksakan kehendaknya. Usul kepada Pemerintah agar semua orang
harus memeluk salah
satu agama yang ada. Yang
tidak mau,
dicapnya
sebagai orang PKI yang harus dibrantas. Pemerintah pun seperti kerbau yang
dicucuk hidungnya yang hanya tinggal
menurut saja. Sebab tiap aparat pemerintah
pribadi-pribadi orangnya yang takut di PKI-kan jika tidak menuruti. Maka
terlaksanalah
semua orang masuk ke salah
satu agama yang sudah diakui oleh Pemerintah.
Kemudian orang yang mengaku sebagai orang Islam, dipaksanya supaya harus shalat. Aliran-aliran Kebatinan, aliran Ke Sepuhan, aliran Ke Jawen dan sebagainya
diusulkan agar dibubarkan dan anggotanya
harus memeluk salah satu agama, sebab
aliran-aliran kepercayaan itu bukan agama katanya. Untung saja Pemerintah tidak menuruti, sebab orang-orangnya
lebih shaleh, lebih sabar-sabar dari pada orang-orang Islam baru itu sendiri.
Paham Islam lama yang dulu pernah menentangnya, sekarang dicapnya sebagai Islam
yang sudah tidak murni lagi, sudah kecampuran budaya daerah, sudah kecampuran
tradisi daerah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai Islam yang sudah kemasukan
ajaran PKI, sehingga banyak orang yang menjadi takut. Pada waktu itu kalau ada
kata PKI, semua orang menjadi
takut, tak ada seorangpun yang berani menanggapinya.
Kemudian lagi-lagi
paham Islam baru mengusulkan agar pelajaran Pendidikan Budipekerti disekolah-sekolah dihapuskan dan
diganti dengan pelajaran agama langsung. Lagi-lagi di sini Pemerintahpun seperti
kerbau dicucuk hidungnya yang hanya manut-manut saja. Pribadi aparat-aparatnya
tidak berani menolak, takut di PKI-kan. Pendidikan Budipekerti di sekolah dihapus, diganti
pelajaran agama langsung. Sudah barang tentu guru agama akan sangat kurang. Untuk memenuhi
kekurangan guru agama Islam, Pemerintah
membuka kursus kilat pendidikan guru agama Islam. Waktu itu untuk mencari anak
muda/mudi tamatan SMP saja masih sangat sulit. Maka anak muda-mudi tamat SD pun
jadilah. Bahkan banyak teman penulis dan bekas murid penulis yang hanya baru
tamat kelas 5 bisa diterima menjadi guru agama Islam untuk mengajar di SD lalu
menjadi teman penulis. Lagi-lagi pemaksaan kehendak diterapkan lagi, semua
murid dipaksa harus mengikuti pelajaran agama, yang tidak mau mengikuti di
PKI-kan. Maka semua murid terpaksa harus mengikuti pelajaran agama. Khusus untuk agama Islam yang
diajarkan/buku pegangannya
adalah paham Islam baru.
Murid-murid yang sebagian besar adalah anak penganut paham Islam lama dan yang sangat didambakan
oleh para orang tuanya untuk
menjadi penerus dan pelestari dari paham Islam
lama dan budaya orang tuanya yang bersumber dari paham Islam lama, telah
diputus paksa dengan digencar
ajaran paham Islam baru sejak dini. Sekarang bisa kita lihat dan kita saksikan
bersama hasilnya, bagaimana
watak bangsa Indonesia yang dididik dengan Pendidikan Budipekerti dulu sebelum
1965 dengan watak bangsa Indonesia sekarang yang dididik dengan pelajaran agama
Islam baru langsung, sesudah tahun 1965. Orang mau mengakui atau tidak mau
percaya atau tidak, kenyataan telah membuktikan. Watak bangsa menjadi keras,
ekstrim. Yang calon generasi bangsa sudah bisa berhasil dididik dengan ajaran paham Islam
baru sejak disekolah-sekolah paling bawah. Kepada masyarakat yang sudah
terlanjur menganut paham Islam lama dimana-mana diadakan pengajian-pengajian. Orang yang mengaku beragama Islam dipaksa untuk harus
menghadiri pengajian-pengajian
itu. Yang tidak mau hadir diintimidasi atau diboikot. Isi pengajiannya adalah
paham islam baru. Mula-mula pengajian-pengajian begini ini harus ada izin dari polisi untuk diawasi
agar jangan sampai menyinggung-nyinggung agama lain yang bisa menimbulkan
konflik. Lama-lama usul agar pengajian tidak perlu meminta izin, tidak perlu
diawasi polisi.
Alasannya
menyebarkan agama Allah pasti menyebarkan kebaikan dan kebenaran, sehingga tidak
perlu diawasi. Pemerintah (Polisi) menerima usulan itu, sehingga
pengajian-pengajian bisa bebas tanpa diawasi polisi. Lama-lama dari sedikit
mulai ada kata-kata yang menyinggung agama lain. Makin lama makin banyak dan
makin berani mengeluarkan kata-kata yang menyinggung agama lain ini. Saking
kerapnya terjadi, lama-lama menjadi suatu hal yang biasa. Sayangnya Pemerintah
(Orde Baru) bukannya mencegah, tetapi malah membantunya, bahkan Pemerintah Orde
Baru menyelenggarakan penataran P.4 kepada para PNS dan masyarakat, isinya juga
paham Islam baru. Maka sempurnAllah sekarang ini paham Islam baru untuk menjadi
pandangan hidup bangsa. Istilah-istilah milik paham Islam baru yang dulu
ditentang oleh paham Islam Lama dan Pemerintah Orde Lama sekarang telah menjadi
milik bangsa dan negara. Tinggal segelintir dua gelintir lansia saja yang tetap
mempertahankan Islam Lamanya, sebab memang mempunyai landasan dalil-dalil yang
jelas dan kuat yang justru malah diingkari oleh paham Islam baru.
Menurut pendapat
para lansia yang masih melestarikan paham Islam lama ini, rusaknya watak bangsa Indonesia ini hanya
dapat disembuhkan kembali seperti dulu itu hanya dengan jalan mengembalikan paham Islam
lama ini. Dengan kembalinya pandangan hidup bangsa yang menganut paham Islam lama
bukan hanya watak bangsa yang akan kembali seperti dulu, yaitu kepribadian yang
luhur, tetapi juga akan mencegah berkembangnya paham fanatis, ekstrimis,
teroris, ISIS, dst. Juga akan menumbuh suburkan kembali lahirnya jiwa-jiwa Nasionalis,
jiwa-jiwa Pancasilais jiwa-jiwa Bhinekais akan menumbuh suburkan kerukunan
antar agama dan antar suku. Ini berarti bahwa paham Islam lama harus digali
kembali dan disiarkan kepada masyarakat tanpa paksaan, sebagai pembanding paham
Islam baru, biar masyarakat membanding-bandingkan sendiri, mempertimbangkan
sendiri yang akhirnya biar memilih sendiri, mana yang paling cocok dengan nalarnya.
Kalau dulu Pemerintah
Orde Baru pernah menyelenggarakan penataran P.4 yang materinya adalah paham
Islam baru ini, maka Pemerintah Orde Reformasi sekarang ini sebaiknya juga
harus menyelenggarakan penataran P.4 untuk mengimbangi, yang materinya adalah
paham Islam lama. Ini cocok dengan pendapat Bapak Prof. Dr. Taufik Kiemas
Almarhum yang memandang perlu adanya penataran P.4 lagi bagi bangsa ini,
dan sesuai pula dengan program Bp. Ir. Joko Widodo yang ingin mengadakan Revolusi
Mental. Lahirnya organisasi Gafatar, lahirnya paham komunis/PKI baru, lahirnya
Indonesia menggugat, lahirnya tulisan ini mungkin ada lagi yang lain, ini adalah
tanda-tanda tidak puasnya hati masyarakat kepada Pemerintahan sekarang ini yang
tetap melestarikn langkah Pemerintahan Orde Baru yang tidak adil mengayomi
agama yang ada, tetapi malah menjadi kaki tangan paham Islam baru. Kecuali
penataran P.4 kepada masyarakat, yang tidak kalah pentingnya adalah mengembalikan Pendidikan Budipekerti di
semua jenjang pendidikan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Pendidikan Budipekerti dikembalikan ke
sekolah, malah harus ditingkatkan penanganannya. Sedang pelajaran agama tetap harus
dihapuskan dari sekolah,
biar diperdalam diluar sekolah, sesuai dengan keyakinan orang tuanya
masing-masing, sebab yang namanya agama Islam sendiri saja paham keyakinannya
sudah ada beberapa macam golongan yang
berbeda-beda, yang tiap-tiap
golongan tidak ingin untuk dipaksa agar mau
mengAllah untuk mengikuti paham lainnya. Sampai saat ini yang menguasai
pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah adalah paham Islam baru yang
jelas-jelas pahamnya bertolak belakang dengan paham Islam lama dan paham agama-agama
lainnya. Kalau pelajaran agama ingin tetap diajarkan di-sekolah-sekolah, maka sebaiknya
gantian, materi pelajarannya diganti paham Islam lama. Kalau ini yang
diterapkan, pendidikan Budipekerti tetap dihapuspun tidak jadi apa, sebab paham
Islam lama memang menjadi sumber lahirnya Pendidikan Budipekerti. Bahkan paham Islam
lama ini bisa diterima dan diikuti oleh semua agama yang ada, Dan yang sangat
penting dan perlu diingat bahwa paham Islam lama ini sumbernya juga dari Al-Qur’an,
tetapi bisa diterima oleh semua suku bangsa karena memang menyatukan semua
bangsa, dan bisa diterima oleh semua agama yang ada, karena memang menyatukan
semua agama yang ada. Selain itu semua, pelajaran agama paham Islam lama bahkan
bisa mencegah lahirnya jiwa-jiwa egois, fanatis, ekstrimis, teroris, dan ISIS. Bagi
Pemerintah semua ini adalah hal yang mudah untuk diwujudkan sebab Pemerintah
punya kekuasaan dan punya kekuatan. Kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan
lagi? Apa perlu menunggu sampai negara ini hancur dulu seperti Irak, Siria dan
sebagainya yang setiap saat ada bom bunuh diri, bom mobil, bom waktu dan
sebagainya.
PAHAM
ISLAM LAMA
Di sini digunakan
istilah paham Islam lama dan paham Islam baru, ini bukanlah nama yang resmi atau
yang definitif, tetapi hanya untuk membedakan saja adanya dua paham Islam yang
sangat jauh beda umurnya dan sangat jauh beda pahamnya. Paham Islam lama sudah
ribuan tahun atau bahkan sudah jutaan tahun yang lalu sudah dihayati dan
dilestarikan oleh para Leluhurnya umat di dunia ini, sedang paham Islam baru,
ini baru lahir sesudah agama Islamnya Nabi Muhammad berjalan beberapa tahun
kemudian. Semula agama Islamnya Nabi Muhamad inipun adalah juga paham Islam
lama ini, tetapi lama-lama lahirlah paham Islam baru yang dari sedikit mulai
menyimpang dari paham Islam lama. Makanya Nabi Muhammad sendiri pernah
menangis, menangisi umatnya yang besok-besoknya akan ada yang salah menafisiri makna Islam
dan sAllah menerapkan ajaran Islam ini. Kecemasan Nabi ini telah menurun kepada
para Leluhur kita, sehingga para Leluhur kita telah menolak usulan perubahan kalimat
pada sila pertama dari Pancasila yang diusulkan oleh para tokoh-tokoh Islam
baru dalam muyawarah penyusunan naskah pembukaan UUD 1945 dulu. Paham Islam
lama ini dulu pernah menjadi pandangan hidup bangsa kita, telah memotivasi
kehidupan bangsa kita, telah mendarah daging di kehidupan bangsa kita, sehingga
kehidupan di masyarakat adanya hanya serba rukun dan damai, cinta saling
menghormati, cinta saling menolong, berjiwa Nasionalis yang sejati, berjiwa Pancasilais
yang sejati, menghormati semua agama, dst. Oleh karena inilah maka paham Islam
lama ada yang menyebutnya paham Islam Nasional. Karena yang rajin menaati dan getol
mempertahankannya kebanyakan adalah orang Jawa, maka paham Islam lama ini ada
yang menyebutnya paham Islam Jawa.
Paham Islam lama
berpendapat bahwa Allah yang hanya Satu itu ( Hyang Maha Esa ) menciptakan
agama juga hanya satu. Agama yang hanya satu-satunya ini telah disusun dengan
sangat benar, sangat sempurna, sangat religius dan sangat Adi Luhung, makanya
oleh Allah juga diharap agar abadi sepanjang masa. Tidak boleh ditambah ataupun
dikurangi, tidak boleh diubah-ubah, tidak boleh dipolitisir, tidak boleh
dimodernisir untuk menyesuaikan dengan perubahan dan kemajuan zamannya. Agama
Allah yang sudah sangat sempurna ini, selalu relevan dengan perubahan dan
kemajuan zamannya walaupun zaman ini akan maju terus dan berubah terus seperti
apapun modernnya. Eloknya bagi siapa yang mau mempelajari agama Allah ini, akan
selalu memetik hasil yang serba baru dan serba elok baginya,yang belum pernah
ditemui dimanapun dan kapanpun. Makanya tidak mungkin Allah menciptakan banyak
agama yang
berbeda-beda tetapi benar semua. Juga tidak mungkin Allah menciptakan banyak
agama ada yang benar dan ada yang salah. Jadi Allah yang hanya Satu, agamaNya pun hanya satu. Pada umumnya masyarakat
ini, kalau mendengar kata Islam, asumsinya mesti kepada Al-Quran. Ini memang
benar sekali, sebab Al-Qur’an memang menjadi pedoman utama bagi umat Islam,
termasuk paham Islam lama, meskipun paham Islam lama ini sudah dihayati dan
diterapkan orang jauh-jauh hari sebelum Al-Quran turun. Karena Al-Quran adalah
satu-satunya kitab suci Allah yang terjaga kemurniannya sejak awal diturunkan
sampai sekarang, maka agama Allah yang hanya satu-satunya itupun disebut-sebut
juga di dalamnya. Bahkan juga menjadi pokok penjelasan dalam Al-Quran itu.
Bukti bahwa agama Allah hanya satu disebutkan dalam Al Quran.
Surat
Al-Baqaroh (2) ayat 136
“Quuluu aamannaa billaahi wa maaunzila ilainaa wa maaunzila ilaa Ibraahiim
wa-Ismaa‘iila wa-Ishaaq wa Ya’ qub waal-asbaathi wa maa uutiya Muusaa wa’Isaa
wamaa uutiya alnnabiyyuuna min rabbihim laa nufarriqu baina ahadin minhum
wanahnu lahu muslimuun”
Artinya:
Katakanlah: "Kami
telah beriman kepada Allah dan (kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa-apa
yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya yang
diturukan kepada Musa dan Isa dan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi dari
Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan
kami patuh kepada Allah."
Surat
Ali-Imran (3) ayat 84:
“Qul
aamanna billaahi wamaa unzila ‘alainaa wa maa unzila alaa Ibrahim, wa Ismail,
wa Ishaq wa Ya’qub wal asbaathi wa maa utiya Musa, wa Isa wannabiyyuuna mir
rabbihim, laa nufarriqu baina ahadim minhum, wa nahnu lahuu mslimuun.
Artinya:
Katakanlah: "Kami
beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang
diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya dan apa-apa
yang diberikan kepada Musa, Isa, dan nabi-nabi dari Tuhan Mereka, tidak lah
kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami tunduk kepada Allah."
Dari ayat-ayat ini
Allah telah mengingatkan kepada kita agar kita jangan membeda-bedakan para Nabi
utusan Allah itu. Karena para Nabi utusan Allah itu sama derajat ke Islamannya,
sama-derajat ke Mursyidannya, sama derajat ke Makrifatannya, sama derajat ke Nabiannya,
dan sama derajat ke Rasulannya. Inilah sebabnya maka para penganut paham Islam
lama tidak pernah mengagung-agungkan salah satu dari para nabi utusan Allah itu.
Semua nabi harus kita perlakukan dan kita hormati sama derajatnya. Kecuali ini
semua, yang juga tidak boleh dibeda-bedakan adalah agama yang diturunkan Allah
kepada para Nabi itu. Agama Allah yang diturunkan kepada para nabi itu sama
yaitu agama milik Allah yang hanya satu-satunya itu. Saking pentingnya
peringatan agar kita jangan membeda-bedakan agama Allah ini, sampai diulang dua
kali ayat peringatan itu diturunkan. Kalau masih kurang mantap, masih diulang
lagi peringatan itu agar lebih jelas dan lebih mantap, bahwa agama Allah yang
diwahyukan kepada para Nabi itu sama.
Surat
An Nisa (4) ayat 163:
“Inna
auhaninaa ilaika kamaa auhainaa ilaa Nuhin wan nabiyyiina min ba’dihii, wa
auhainaa ilaa Ibrahim, wa Isma`il, wa Ishaq, wa Ya’qub wal asbaathi, wa Isa, wa
Ayyub, wa Yunus, wa Haarun, wa Sulaiman, wa aatainaa Dawud Zabuur.”
Artinya:
"Sesungguhnya
kami telah mewahyukan kepada engkau (Muhammad) sebagaimana kami telah
mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya, dan kami telah mewahyukan pula
kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya dan lagi kepada Isa, Ayyub, Yunus, Harun
dan Sulaiman dan Kami berikan Zabur kepada Dawud."
Surat
An Nisaa (4) ayat 164:
“Wa
rusula qadqashasnaahum alaika min qablu wa rusula lamnaqshush hum ‘alaika, wa
kallamallaahu Musa takliimma.
Artinya:
"Ada
beberapa orang Rasul telah kami kisahkan kepada engkau sebelum itu, dan ada
beberapa Rasul (yang lain) tiada kami kisahkan kepada engkau; Allah telah
bercakap-cakap dengan Musa sebenarnya bercakap-cakap."
Surat
An Nisaa (4) ayat 152:
“Wal
ladzina aamanuu billaahi wa rusulihii wa lam yufarriquu baina ahadim minhum
ulaaika saufa yu’tihim
ujuurahum wa kaanallaahu ghafuu rarrahim.”
Artinya:
"Orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulnya
dan tiada memperbeda-bedakan seorangpun diantara Rasul-rasul itu, nanti Allah
akan memberikan pahala kepada mereka. Allah pengampung lagi Pengasih."
Surat (4) ayat 163
ini lebih menjelaskan bahwa agama Allah yang diwahyukan kepada para Nabi itu
sama, hanya agama milik Allah satu-satunya tadi. Agama Allah yang diwahyukan
kepada para Nabi utusanNya itu juga diturunkan kepada para Nabi utusan Allah
yang namanya tidak dikisahkan sesuai surat (4) ayat 164, antara lain Sang Budha,
Sang Kong Hu Cu, Sang Sukma Sejati dan masih banyak lagi para Nabi yang tidak
dikisahkan dalam kitab. Surat (4) ayat 152 ini lebih menekankan lagi, bahwa
pahala Allah yang paling tinggi derajatnya, hanya akan diberikan kepada orang
yang tidak membeda-bedakan Nabi Allah dan Agama Allah. Karena hanya
mereka-mereka inilah yang sudah paham betul akan isi agama Allah itu, yang
telah diterimanya dari para Leluhur sebelumnya secara turun-temurun sejak
ribuan tahun yang lalu. Makanya hanya mereka inilah yang mau meyakini bahwa
agama Allah itu hanya satu. Dalam
Al-Quran agama Allah yang hanya satu-satunya itu disebutnya Islam.
Surat
Ali Imran (3) ayat 19:
“Innaddiina
`indallaahil Islam, wa makhtalafal ladziina uutul kitaaba illaa min ba`di
maajaa`ahumul `ilmu baghya bainahum, wamayyakfur bi aayaatillaahi fa innallaaha
sari`ul hisaab.
Artinya:
"Sesungguhnya
agama (yang dibenarkan) disisi Allah ialah Islam. Tiadalah berselisih orang-orang
ahli kitab melainkan setelah datang ilmu pengetahuan kepada mereka, karena ber-dengki-denkian sesamanya.
Barang siapa yang kafir akan ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah bersegera
menghisabnya."
Dari ayat ini mulai
kita temukan adanya dua penafsiran yang sangat jauh berbeda antara paham Islam
lama dengan paham Islam baru. Oleh karena itu marilah kita saling menghormati
antara kedua pendapat yang berbeda itu, karena yang namanya keyakinan orang
pasti akan mempertahankannya sampai mati. Makanya Allah telah melarang adanya
pemaksaan dalam hal agama ini. Sekali lagi marilah kita saling menghormati adanya
dua pendapat yang berbeda ini. Jangan ada pemaksaan dari salah satunya.
Paham Islam baru berpendapat bahwa yang
namanya agama Islam itu adalah agama yang hanya diajarkan oleh Nabi Muhammad. Agama
yang bukan ajaran Nabi Muhammad adalah bukan Islam. Jadi agama-agama: Hindu,
Budha, Kristen, Katolik, Kong Hu cu, aliran-aliran Kepercayaan, aliran Kebatinan,
aliran KeJawen, aliran Kasepuhan, Ngelmu Sejati, Ngelmu Kasampurnan, Ngelmu
Kasunyatan, Ngelmu Panunggal, Ngelmu Luhung, dan lain2nya itu adalah bukan
agama Islam, dan itu semua yang tidak dibenarkan oleh Allah. Makanya sebaiknya semua
itu harus dilarang atau dibubarkan. Setidaknya harus diawasi dan dibatasi
perkembangannya. Mentolerir mereka sangat tidak dibenarkan, apa lagi memberi
pertolongan. Malah yang memusuhi mereka
akan mendapat pahala, karena telah membela kebenaran Allah.
Paham
Islam lama penafsirannya lain lagi. Allah menciptakan agama itu hanya Satu. Dan
agama Allah yang hanya Satu-satunya itulah yang dibenarkan oleh Allah. Kalau dalam ayat itu agama
yang dibenarkan oleh Allah itu disebut Islam, maka yang dimaksud dengan Islam disitu
tak lain dan tak bukan adalah hanya agama ciptaan Allah satu-satunya itu. Jadi kalau
agama yang diwahyukan Allah kepada semua RasulNya itu sama, berarti semua Nabi
utusan Allah itu menerima agama IslamNya Allah ini semua. Makanya semua Nabi utusan
Allah itu agamanya Islam semua, termasuk yang namanya tidak dikisahkan. Walaupun
sesebutan Islam ini baru diturunkan melalui Al Qur`an, tetapi agama IslamNya Allah ini telah disebar
luaskan di muka bumi ini sejak ribuan tahun sebelum Al Qur`an diturunkan.
Sebelum disebut Islam melalui Al Qur`an, apa sesebutan agama Allah ini, kita tidak tahu. Orang
tahunya agama Allah
yang diturunkan dinegara orang Hindu, disebutnya agama Hindu. Agama Allah yang
diajarkan oleh Sang Budha, orang menyebutnya agama Budha. Agama Allah yang
diajarkan oleh Sang Kristus, disebut orang agama Kristen. Agama Allah yang
diajarkan oleh Sang Khong Hu Cu, orang menyebutnya agama Kong Hu Cu. Agama Allah
yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, mestinya harus disebut Muhammadiyah. Agama Allah
yang diturunkan di Jawa, ada yang menyebutnya Ngelmu Sejati, Ngelmu Luhung,
Ngelmu Kasunyatan, Ngelmu Kasampurnan, Ngelmu Panunggal, dan seterusnya.
Walaupun yang menyebutkan agama Allah ini Islam adalah Al Quran, ini tidak
berarti bahwa hanya Al Qur`an yang mengajarkan agama Islam, tetapi semua kitab
suci Allah mengajarkan agama IslamNya Allah semua. Baca Al Quran Surat (2) ayat 136; Surat (3) ayat 84; Surat (4) ayat 163. Semua Nabi diutus
Allah supaya menyebar luaskan agama IslamNya Allah ini kepada suku bangsa
mereka masing-masing, jangan sampai keliru ke suku bangsa yang bukan bangsanya
sendiri. Sebab Allah menciptakan manusia ini tidak hanya satu jenis, satu wajah
raut muka, satu warna
kulit, satu postur tubuh, dst, tetapi sangat beraneka. Disebutkan dalam Al
Qur`an;
Surat Al Hujurat (49) ayat 13;
"Yaa ayyuhannaas, innaa khalaqnaakum
min dzakariw wa untsa wa ja`alnaakum syuu`ubaw wa qabaaila lita`aarafuu, inna
akramakum `indallaahi atqaakum, innallaaha `alimun khabiir."
Artinya;
"Hai,
manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan
Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku,
supaya kamu berkenal-kenalan.
Sesungguhnya orang yang termulia diantara kamu disisi Allah, ialah orang yang
lebih taqwa. Sungguh Allah Mahamengetahui
lagi Mahaamatmengetahui."
Allah
menciptakan manusia ada yang laki-laki ada yang perempuan, supaya ada saling
mencintai sehingga akan selalu melahirkan generasi manusia yang baru yang akan
selalu membawa perubahan dan kemajuan di dunia. Selain laki-laki dan perempuan,
juga terdiri dari ribuan suku dan bangsa yang berbeda-beda warna kulitya,
berbeda postur tubuhnya, berbeda-beda raut wajahnya, berbeda-beda bahasa dan
budayanya, dst. Ini semua supaya dunia kelihatan indah menarik, dan ini bisa
terwujud apabila manusia-manusia ini rukun, suka saling menolong. Sebenarnya
Allah bisa saja menciptakan manusia ini hanya dengan satu jenis dan satu macam
saja. Tetapi apakah bukan kita sendiri yang akan repot kalau kita harus
menghadapi sesama manusia yang semuanya serba sama tidak laki2 tidak perempuan,
raut wajahnya sama, postur tubuhnya sama, warna kulitnya sama, tua mudanya
sama, dst serba sama? Jadi kalau sekarang ada manusia yang suka bermusuhan, itu
jelas telah melanggar perintah Allah supaya rukun ini. Karena Allah sangat
kasih sayang kepada seluruh umatNya ini tanpa pilih kasih suku dan bangsanya,
maka kepada setiap suku bangsa ini Allah telah menyampaikan secara langsung
agama Islam satu-satunya tadi melalui seorang Rasul. Al-Quran menyebutkan:
Surat
An Nahl (16) ayat 36
“Wa
laqad ba’ atsnaa fii kulli ummatin Rasuulaa ani’buduullaaha wajta
nibuuththaaghuut, fa minhum man hadallaahu wa minhum manhaqqat ‘alaihi dhdhalaalatu,
fasiiruu fil ardhi fanzhuruu kaifa kaana `aaqibatul mukadzdzibiin."
Artinya:
"Sesungguhnya
telah Kami
utus seorang Rasul kepada tiap-tiap umat, hendaklah kamu sembah Allah dan
jauhilah thahut (berhala). Maka diantara mereka ada yang ditunjuki Allah, dan
diantara mereka ada yang berhak mendapat kesesatan. Maka berjalanlah kamu di
muka bumi, lalu perhatikanlah, bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan
Allah.
Surat Yunus (10) ayat 47
“Wa likulli ummatir rasuulun, fa idzaajaa`a
rasuuluhum qudliya bainahum bilqsthi wahum laayudh lamun.
Artinya :
Bagi
tiap-tiap umat ada seorang rasul, apa bila datang Rasul mereka, lalu dihukum
antara mereka dengan keadiln, sedang mereka tiada teraniaya.
Surat
Al Hajji (22) ayat 67
“Li
kulli ummatin ja’alnaa mansakanhum naasikuuhu falaa yunaazi’un naka fil amri
wad’u ilaa rabbika, innaka la’ala hudam mustaqiim.
Artinya:
"Untuk
tiap-tiap umat kami adakan suatu syariat, mereka itu mengamalkannya sebab itu
janganlah dibiarkan mereka berbantah-bantah dengan engkau tentang urusan
(syariat itu) dan serulah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau atas petunjuk
yang lurus."
Dari ayati-ayat ini
(Surat (16)
ayat 36; Surat (10) ayat 47), kepada setiap umat atau
kepada setiap suku bangsa Allah telah mengutus seorang Rasul untuk menyampaikan
agama IslamNya Allah secara langsung. Allah tidak pernah mengutus seorang
Rasulpun yang menggunakan bahasa lain dari bahasa umatnya yang dituju, tetapi
selalu mengutus rasul dengan bahasa umatnya yang dituju supaya umatnya bisa
menerima dengan jelas penjelasan Rasulnya yang menggunakan bahasa mereka sendiri, apa
isi agama IslamNya Allah itu. Kepada umat Hindu Allah telah mengutus RasulNya
dengan bahasa Hindu. Kepada umat yang berbahasa Ibrani, Allah telah mengutus RasulNya
dengan bahasa Ibrani. Kepada umat Cina, Allah telah mengutus RasulNya dengan
bahasa Cina. Kepada bangsa Arab, Allah telah mengirim RasulNya dengan bahasa
Arab. Kepada umat Jawa, Allah telah mengutus RasulNya dengan bahasa Jawa,
begitu seterusnya. Jadi yang punya program untuk meng-Islamkan umat di seluruh
muka bumi ini, itu adalah
Allah sendiri. Allah sendirilah yang menginginkan agar seluruh umatNya di muka
bumi ini beragama Islam semua, tetapi beragama IslamNya Allah, yang oleh Allah
telah diselaraskan dengan bahasa dan budaya masing-masing suku bangsanya,
sehingga tiap suku bangsa punya syari`at sendiri2 yang ber-beda2, syariatnya
biar berbineka tetapi hakikatnya tetap tunggal ika. Jadi kalau sekarang ada
kelompok Islam yang ingin memaksakan kehendaknya agar umat sedunia ini memeluk
agama Islamnya Nabi Muhammad semua dan syariat panembahnya diseragamkan dengan
cara sholat semua, dengan bahasa Arab semua, apakah ini bukannya malah
bertentangan dengan kehendak Allah yang menginginkan agar tiap umat punya satu
syariat itu ? Ingat Surat (29) ayat
67, Surat (5) ayat
48.
Tetapi tidak
sedikit umat yang malah
menolak Rasulnya sendiri yang menggunakan bahasanya sendiri ini, dan malah merasa lebih hebat
jika bisa mempelajari ajaran Rasul dari suku lain yang menggunakan bahasa lain.
Maka dengan petunjuk (agama) ini Allah menyesatkan atau memberi kesesatan
kepada siapa yang dikehendaki dan menunjuki atau memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki Surat (16) ayat
36 , Surat (14) ayat
4.
Dari paham Islam
lama ini, selain melahirkan jiwa-jiwa Nasionalis sejati, jiwa-jiwa Pancasilais
sejati dan jiwa-jiwa Bhinekais sejati, juga melahirkan nalar Sepuh atau nalar Mursid yang menjadi jiwa dari
Jawanya orang Jawa. Jiwa dari Jawanya orang Jawa adalah nalar Sepuh atau nalar
Mursid ini. Kalau sekarang ada istilah; orang Jawa sudah kehilangan Jawanya,
ini berarti orang Jawa sudah kehilangan nalar Sepuhnya atau sudah kehilangan
nalar Mursidnya ini. Adanya sekarang ini tinggal orang Jawa yang bernalar muda
semua. Nalar muda adalah nalar yang tidak percaya adanya manusia yang masih
hidup didunia, bisa ketemu dengan Allah. Bahkan ada nalar muda yang ekstrim
yang menyebutkan bahwa manusia yang masih hidup di dunia ini kalau bisa ketemu
dengan Allah adalah orang tidak waras, orang gila. Kalau dia ini orang Islam,
dia telah kafir terhadap firman Allah dalam Al-Quran;.
Surat
Al Israak (17) ayat 72:
“Wa
man kaana fii haadzihii a’ma fa huwa fil aakhirati a’ma wa adlallu sabiila.”
Artinya:
"Barang
siapa yang buta (hati) didunia ini, niscaya ia buta pula diakhirat dan lebih
sesat jalannya."
Dengan ayat ini,
Allah telah mengingatkan kepada kita bahwa orang yang tidak akan tersesat masuknya
keakhirat , hanyalah orang-orang yang sewaktu masih hidup di dunia ini sudah
pernah bisa menyaksikan sendiri lagi keadaan akhirat itu. Bagi nalar sepuh
justru ayat inilah yang memicu semangat ke-Sepuhannya untuk harus belajar membuktikan
kenyataan dari akhirat itu selama masih hidup. Dan hanya inilah yang menjadi
idola para sesepuh, bukan harta, bukan tahta, bukan pula wanita. Disini
digunakan kata "Sepuh"
bukan "tua" sebab dikalangan
masyarakat Jawa, kata Sepuh ini memiliki kedudukan lebih terhormat dari kata "tua". Kata "tua" konotasinya adalah
para lansia yang umumnya sudah jompo atau sudah pikun. Jompo itu sudah tuna
motorik, geraknya lamban, jalannya terhuyung, mudah jatuh, kikuk, mudah salah
langkah, kebas (buyutan), canggung dan seterusnya. Sedang pikun adalah sudah
tuna pikiran, pelupa, bodoh, bingung dan sebagainya. Orang-orang sepuh biasanya
terhindar dari penyakit jompo dan pikun ini. Arti kata Sepuh ini diterangkan dalm
buku “Wedhatama” karangan dalem KGPAA Mangku
Negara IV tembang: Pangkur; pupuh; 12, 13, 14.
Pangkur; pupuh : 12
|
Sapantuk
wahyuning Allah
gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
bangkit
mikat reh mangukut
|
Siapa
mendapat wahyu Allah;
segera bergegas mengulah ilmu kesempurnaan
sempurna dalam pemulungan segalanya
|
|
Kukutaning jiwangga
|
Pemulungan
kembali jiwa dan raga
|
|
Yen
mangkono kena sinebut wong sepuh
|
Jika
sudah demikian baru bisa disebut orang Sepuh
|
|
Liring
sepuh sepi hawa
|
Artinya
Sepuh sudah sepi nafsu
|
|
Hawas
roroning atunggil
|
Waspada
panunggalnya dwi tunggal
|
Pangkur; pupuh : 13
|
Tan samar pamoring Suksma
|
Tidak kilaf menyatukannya Suksma
|
|
Sinuksmaya
winahya ing ngasepi
|
Dikeluarkannya
Suksmanya sialam sepi
|
|
Sinimpen
telenging kalbu
|
Disimpan di lubuk
hati
|
|
Pambukaning
warana
|
Membukanya
tirai
|
|
Tarlen
saking lijep layaping aluyut
|
Tak lain dari
liyep layap luyut
|
|
Pindha
pesating supena
|
Seperti
lepasnya mimpi
|
|
Sumusuping
rasa jati
|
Masuknya
rasa jati
|
Pangkur; pupuh : 14
|
Sajatine kang mangkana
|
Sesungguhnya
yang demikian itu
|
|
Wus kakenan nugrahning Hyang Widhi
|
Sudah terkena anugerah
Tuhan
|
|
Bali alaming asuwung
|
Kembali ke Alam
Kosong
|
|
Tan karem karamean
|
Tidak suka keramaian
|
|
Ingkang sipat wisesa winisesa wus
mulih mula mulanira
|
Yang sifat kekuasaan sudah dikuasai
kembali keasal mula
|
|
Mulane wong anom sami
|
Makanya
para muda hendaknya
|
Dari
isi tembang-tembang
itu orang yang sudah pantas disebut Sepuh adalah orang yang sudah;
1.
Mendapat peringatan dari Allah
yang disebutnya wahyu, sehingga tergugah hatinya untuk segera menggeluti ilmu
kesempurnaan, agar sempurna hidupnya sebagai manusia dan sempurna matinya
sesuai kehendak Allah.
2.
Latihan mengeluarkan sukma
dari raga harus memilih tempat yang sepi. Semua usaha ini diusahakan untuk dirahasiakan,
ditutup-tutupi jangan dipamer-pamerkan: sembahyangnya, puasanya, amal
ibadahnya, zakat fitrahnya, semua jangan dipamerkan. Kalau bisa jangan sampai
ada orang tahu, karena semua ini demi dan untuk Allah, supaya bisa diterima
biar yang tahu hanya Allah sendiri.
3.
Membukanya tabir yang
menghalangi kembalinya Roh Suci ke-asalnya, mesti lewat alam liyep, alam layap,
akhirnya baru ke-alam luyut, inilah masuknya Roh Suci ke Alam Sejati (surga)
4.
Kalau sudah sampai ke Alam
Sejati, itu pertanda bahwa sudah menerima anugerah pahala dari Tuhan yang
paling tinggi, bisa sempurna matinya kembali ke alam kosong.
Inilah ciri-ciri
khas orang yang sudah pantas untuk disebut Sepuh. Dulu sebelum (1965) waktu
bangsa Indonesia ini masih menganut paham Islam lama, yang menjadi idolah
bangsa adalah ingin menjadi orang Sepuh seperti ini. Orang tidak silau, tidak
heran, tidak segan jika melihat orang yang kaya raya, orang yang kedudukannya
tinggi, tetapi sangat heran, sangat segan dan sangat hormat kepada para Sepuh
seperti ini. Semua orang sadar bahwa semua orang pasti akan mengalami tua,
yang akhirnya akan mati. Waktu tua tidak ingin menjadi tua yang jompo dan
pikun, waktu mati ingin mati yang sempurna. Makanya waktu masih hidup hampir
tidak ada orang yang besar nafsunya untuk mempekaya diri, orang umumnya banyak
narimo ( menerima ) apa adanya. Pada umumnya orang banyak yang suka melakukan
perbuatan prihatin, suka mengurangi makan, minum, sahat, tidur, dan foya2
lainnya. dsb.dsb.
Para Sepuh juga
tidak setuju dengan pendapat para anti Tuhan (Atheis) yang berpendapat bahwa “Sebelum kita hidup, kita ini berasal dari
tidak ada apa-apa. Makanya kalau kita mati nanti juga akan musnah kembali ke
tidak ada apa-apa lagi dengan sendirinya, tanpa perlu adanya Tuhan, karena
Tuhan memang tidak ada.” Untuk menangkis pendapat ini, para Sesepuh Jawa
punya kata-kata mutiara yang bunyinya: “Le
ngono ya ngono, ning ora ngono”; "Begitunya
itu ya (memang) begitu, tetapi tidak begitu". "Begitunya
itu ya (memang) begitu",
maksudnya: Memang benar kita ini berasal dari tidak ada apa-apa dan akan kembali
ke tidak ada apa-apa
lagi. Maksudnya; "tetapi tidak
begitu"; yaitu tidak begitu mudah akan berjalan dengan sendirinya, karena
bisanya begitu kembali ke-alam tidak ada apa-apa lagi itu harus dilatih dahulu
sebelum mati, dan untuk ini sangat membutuhkan pertolongan Tuhan, sebab alam tidak
ada apa-apa atau Alam Sejati adalah milik Tuhan. Kalau tanpa latihan tan tanpa
pertolongan Tuhan, sesudah mati Roh Sucinya yang belum suci tidak akan bisa
diterima kembali ke-asalnya Yang Maha Suci, tetapi akan tetap berkeliaran
diluar akhirat yang suci, yaitu di alam sesat atau alam kafiruna. Matinya tidak
sempurna, hanya nyawanya pisah dari raganya. Raga akan bisa kembali ke asalnya:
yang dari tanah akan kembali ke tanah, yang dari api akan kembali ke api, yang
dari air akan kembali ke air, yang dari suasana akan kembali ke suasana. Tetapi
Roh Sucinya tidak akan bisa kembali ke-Alam Sejati yang suci, karena masih
ketempelan nafsu-nafsu, angan-angan dan perasaan-perasaan yang tidak pernah
dilatih untuk ditanggalkan sewaktu masih hidup. Roh suci akan berkeliaran di alam
kafiruna seperti dialam mimpi, yang masih ada rasa gembira dan susah, rasa
haus, rasa lapar, rasa panas, rasa dingin, rasa khawatir, rasa takut, masih ada
rasa ingin makan, ingin minum, ingin sahwat, dsb. Dsb.
Persamaan
pendapat antara paham Islam Lama (nalar Sepuh) dengan pendapat para anti Tuhan
(Atheis) yang mempercayai bahwa kita ini berasal dari tidak ada apa-apa akan
kembali ke tidak ada apa-apa lagi inilah yang dijadikan alasan bagi paham Islam
baru dulu untuk menyebut bahwa Islam lama ini telah kemasukan ajaran PKI. Bukti bahwa agama IslamNya Allah sudah diturunkan dan dianut
oleh para Leluhurnya umat di dunia ini sejak ribuan tahun sebelum Al-Quran diturunkan
disebutkan dalam Al-Quran :
Surat Al-Baqaroh (2) ayat 131
“Idz qaalAllahuu rabbuhuu aslim, qaala aslamtu li rabbil
alamain.”
Artinya :
"Ketika Tuhan berfirman
kepada Ibrahim: Islamlah engkau. Jawabannya Saya telah Islam Tuhan semesta alam."
Surat Al-Baqaroh (2) ayat 132
“Wa washshaabihaa Ibrahimu
baniihi wa Ya’ qub: Ya baniyya innallahash
thafaa lakumuddiina, fa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.
Artinya: "Ibrahim
telah berwasiat kepada anak-anaknya dengan agama itu dan Ya’qub: Hai anak-anakku,
sesungguhnya Allah telah memilih agama untukmu, maka janganlah kamu mati,
melainkan dalam keadaan Islam"
Surat -Yunus (10) ayat 84
“Wa qaala Musa: Ya qaumi inkuntum amantum billaahi fa’ alaihi
taakka luu inkuntum muslimiin.”
Artinya:
"Berkata Musa; Hai,
kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, hendaklah kamu bertawakal kepada-Nya,
jika kamu orang Islam.."
Dari ayat-ayat tersebut, Nabi
Ibrahim dan putra-putranya, Nabi Yaqub dan putra-putranya, Nabi Musa dan
seluruh rakyatnya sudah menjadi orang Islam semua, Islam yang seperti
dikehendaki Allah. Perintah shalat
belum turun, berarti semua Nabi itu sudah bisa menjadi orang Islam yang tanpa
harus shalat. Bukan hanya itu saja yang sudah Islam, tetapi termasuk semua Nabi
yang namanya terkisahkan maupun yang tidak, semua adalah orang yang sudah Islam
semua. Termasuk Nabi Muhammad sendiri, sudah diangkat menjadi Nabi, yang
berarti sudah diakui oleh Allah sebagai orang yang sudah Islam, sebelum
perintah shalat turun. Jadi para Nabi itu diangkat menjadi Nabi (Islam) bukan
karena shalatnya, tetapi karena akhlak nya yang mulia, karena budipekertinya
yang luhur, karena hatinya yang suci. Makanya bagi para Sesepuh tidak ada
istilah orang Islam harus shalat. Istilah orang Islam harus shalat ini itu dulu
hanya milik paham Islam baru, milik orang-orang
yang tergabung dalam partai Masyumi, yang dulu orang NU sendiri saja
menentangnya. Apalagi orang-orang PNI, makanya dulu PNI dan NU itu rukun. Dan penolakan
istilah; Orang Islam harus shalat, ini diayomi oleh Pemerintah jaman Orde
Lamanya Bung
Karno. Disini yang dimaksud orang yang sudah Islam itu adalah orang yang
menurut Al-Quran sudah bisa membukitkan surat Al-Israak (17) ayat 72 diatas, yaitu
pada waktu masih hidup didunia sudah bisa menyaksikan kembali adanya akhirat,
sudah bisa menyaksikan sendiri bukti adanya; Inna lillaahi wa inna ilaihi
raji`un. Bagi orang Jawa, orang yang sudah Islam atau sudah Mursid, adalah
orang yang selama masih hidup sudah bisa diterima oleh Allah kembali ke asal
mula hidup, sudah bisa mencoba mencicipi; Kembali ke Alam Kosong. Inilah orang
yang sudah Sepuh, sudah Islam, sudah Mursid. Kembali ke Alam Kosong ini, dalam
kitab suci Sasangka Jati disebutkan pada akhir sabda yang menyebutkan: Sejatine
ora ana apa-apa, kang ana iku dudu; artinya; Sesungguhnya tidak ada apa-apa,
yang ada itu bukan. Maksudnya; kalau sesudah mati kita masih melihat sesuatu,
masih ada keinginan, masih ketemu orang dlsb, itu tanda bukan yang kita cari.
Dalam tembang Macapat Jawa, peringatan untuk kembali ke Alam Kosong ini ditembangkan
dengan tembang Dandanggula sebagai
berikut;
|
Ana
pandhita akarya wangsit
|
Ada
pendeta membut wasiat
|
|
Pindha
kumbang angajap ing tawang
|
Seperti
kumbang yang ingin menembus langit
|
|
Susuh
angin ngendi nggone
|
Sarang
angin dimana tempatnya
|
|
Miwah
galihing kangkung
|
Serta teras batang
kangkung
|
|
Wekasaning
langit jaladri
|
Akhir
dari cakrawala
|
|
Isine
wuluh wungwang
|
Isi
dari bambu bolong ujung pangkalnya
|
|
Miwah
gigiring pumglu
|
Serta
punggung peluru
|
|
Tapake
kuntul anglayang
|
Bekas
kaki kuntul melayang
|
|
Peksi
mabur uluke ngungkuli langit
|
Burung
terbang ketinggiannya melewati langit
|
|
Puspitanjrahing
tawang
|
Bunga-bunga bertumbuhan
subur dilangit
|
Semuanya ini jawabannya adalah: Kosong.
Orang-orang yang
sudah Islam, sudah Mursid, ini mempunyai ciri-ciri yang khas, mempunyai
tanda-tanda yang khusus, yang mudah dipahami. Orang yang sudah Islam, Islam
yang berarti selamat, akan diselamatkan Allah dunia akhiratnya. Didunia maupun
di akhirat akan diselamatkan Allah dari gangguan atau godaan para iblis atau
setan. Diselamatkan dari sihir, guna-guna, jengges, hipnotis, gendam dlsb. Di
akhiratnya sudah pasti dan yakin bahwa ia akan diterima dengan mudah dan dengan
senang oleh Allah, untuk segera kembali ke asalnya (Allah). Inilah orang yang
matinya disebut mati yang: khusnul-khatimah. Di dunia apa yang dicita-citakan,
akan dikabulkan dengan mudah oleh Allah. Orang Jawa menyebutnya dengan kata-kata indah; "Dadi
saciptane, teka sasedyane, ana kang kinarsakake." Artinya: Dadi saciptane: yaitu jadi apa yang diciptakan,
atau apa yang diciptakan pasti jadi. Teka
sasedyane: yaitu datang apa yang diharapkan,
atau apa yang diharapkan pasti datang, Ana
kang kinarsakake; yaitu ada apa yang
diinginkan atau apa yang diinginkan pasti ada.
Orang yang sudah Islam,
akan dimudahkan oleh Allah urusan duniawinya. Tidak usah diminta, Allah telah
tahu apa yang diinginkan. Yang
tani akan dapat hasil yang baik dan banyak, yang dagang akan laris, yang
pengusaha akan sukses, yang pegawai/karyawan akan lancer kenaikan
gaji/pangkatnya, dst. Orang yang sudah Islam
(selamat), akan diselamatkan Allah dari segala macam musibah dan bencana.
Misalnya kalau sedang ada musibah berupa wabah penyakit menular yang ganas, banyak
orang yang ketularan penyakit itu, tetapi orang yang sudah Islam akan
diselamatkan Allah tidak akan ketularan penyakit yang sedang mewabah itu. Kalau
derajat ke Islamannya makin tinggi, keselamatannya akan meluber ke
sekelilingnya, mula-mula
dari keluargnya yang diselamatkan Allah. Makin tinggi derajat keIslamannya,
makin luas daerah yang kena luberan keselamatan, dari satu desa sampai ke satu
kecamatan dst. Begitu pula kalau misalnya ada bencana alam berupa gempa bumi
yang dahsyat, atau angin ribut yang sangat kuat dan lain sebagainya, maka orang
yang sudah Islam akan diselamatkan Allah dari cedera atau mati, rumahnya akan
diselamatkan
dari kerusakan. Makin tinggi derajat ke Islamannya, makin luas wilayah yang keluberan
keselamatan, orangnya selamat bangunannya tidak rusak. begitu seterusnya. Jadi
orang yang sudah bisa menjadi orang Islam, dia sudah menjadi juru selamat.
Suatu rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya ada yang sudah bisa menjdi
orang Islam seperti ini, itu sudah bisa disebut sebagai rumah tangga yang: Sakinah
mawadah warohmah. Orang yang sudah Islam, segala tindakannya selalu
mendatangkan kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan bagi orang
banyak, sehingga bisa disebut: Selalu hamamayu hayuning bawana, selalu
mengayomi keselamatan dunia. Negara yang punya banyak orang Islam seperti ini,
akan menjadi negera yang: Baldatun thayibatun wa rabun ghafur, negara yang
gemah ripah loh jinawi. Makanya ada kata-kata mutiara yang menyebutkan : Kalau
di dunia ini sudah tidak ada orang Islam satu saja, maka dunia ini akan kiamat.
Orang Islam yang bisa menyelamatkan dunia dari ancaman kiamat itu adalah orang Islam
yang sudah Mursid, sudah Sepuh seperti ini, yang kalau menurut Al Qur`an sudah
bisa berhasil membuktikan surat Al-Israak (17) ayat 72 di atas, bukan orang
Islam yang asal sudah rajin shalatnya saja. Karena untuk bisa membuktikan ayat
tersebut amat sangat berat dan amat sangat sulit, maka paham Islam baru lalu
menyingkiri ayat ini dan lalu membuat aturan baru yang menyebutkan bahwa pahala
dan anugerah itu menerimanya besok di akhirat sesudah kita mati, dan ini dipaksakan
untuk harus diyakini. Kalau ditanya sorga
yang kita inginkan itu yang seperti apa, maka jawabannya ber-macam2, tiap
ustadz punya jawaban sendiri2 yang ber-beda2. Bagi
nalar Sepuh tidak bisa dipaksa supaya percaya apa lagi yakin terhadap janji yang
belum ada buktinya ini. Nalar Sepuh hanya mau percaya dan mau yakin jika sudah
ada bukti nyatanya. Percaya atau meyakini janji yang belum ada buktinya ini,
kalau nanti diakhirat ternyata tidak ada buktinya, maka kita sendiri yang akan
rugi, sebab sudah tidak bisa menuntut kepada siapa dan bagaimana caranya, pada
hal sudah tidak bisa diulangi lagi. Beda kalau sudah bisa membuktikan sekarang,
kalau ternyata cocok di hatinya ya memang itulah adanya. Kalau ternyata tidak
bisa cocok di hati, masih ada kesempatan untuk ganti cara dengan memilih jalan
lain. Orang yang bisa menjadi orang Islam penyelamat dunia dari ancaman kiamat,
ini bisa dari pengikut Nabi Muhammad, bisa dari pengikut Nabi Isa bisa dari
pengikut Sang Budha, bisa dari pengikut sang Kong Hu Cu, bisa dari agama Hindu,
bisa dari aktifis Ilmu Sejati, Ilmu Luhung, Ilmu Panunggal, Ilmu Kasampurnan, Ilmu
Kasunyatan, bisa dari penganut Sang Suksma Sejati, dan lain seterusnya. Inilah
makanya bagi paham Islam lama dan kususnya bagi para Sepuh tidak ada istilah:
Orang Islam harus shalat itu. Dan bagi paham Islam lama kususnya para Sesepuh
memandang shalat itu sama saja dengan syari`at2 panembah lainnya yang bukan
shalat.
Bagi orang-orang yang sudah bisa diterima oleh Allah menjadi
orang Islam seperti ini, itu harus pandai-pandai menjaga dan mempertahankan
anugerah pahala keIslamannya, agar jangan sampai keplorot atau dicabut kembali. Syukur-syukur
harus selalu ditingkatkan derajatnya sampai ke tingkat yang paling tinggi. Sebab
anugerah ke Islaman ini bisa turun derajatnya, bahkan bisa dicabut kembali oleh
Allah, jika si penerima anugerah ini melakukan perbuatan yang tidak disukai
oleh Allah. Kalau anugerah itu dicabut, orang akan keplorot menjadi awam lagi. Perilaku
yang harus dijaga antara lain: jangan sombong, lebih-lebih melanggar larangan
Allah. Sombong itu bisa dari pembicaraan bisa dari perilaku. Sombong bicaranya,
misalnya setelah mendapat anugerah dari Tuhan lalu berani meremehkan orang
lain, menghina orang lain, menyombongkan diri sendiri, tidak bersyukur kepada
Allah, tetapi malah diaku sebagai hasil usaha jerih payahnya sendiri, dlsb. Sombong
perbuatannya misalnya setelah merasa mendapat anugerah, lalu mengganti namanya dengan
nama yang lebih mentereng. Nama lama atau nama daerah, diganti dengan nama
orang Arab atau nama tokoh-tokoh
Islam. Pakaian lama atau pakaian daerah, diganti dengan pakaian yang serba
putih, atau meniru pakaian para Wali, para `Ulama, para tokoh Islam dlsb. Ini
semua akan menyebabkan anugerah itu dicabut kembali oleh Allah, derajat ke
Mursidannya keplorot.
Lebih-lebih kalau berbuat yang jelas-jelas melanggar larangan Allah, anugerahnya
akan kontan dicabut, orangnya akan kontan keplorot kembali menjadi orang awam
seperti semula. Berbeda dengan pendapat paham Islam baru. Untuk bisa menjadi
orang yang benar-benar Islam, maka nama lama atau nama daerah harus diganti
dengan nama orang Arab. Pakaian lama atau pakaian daerah harus diganti dengan
pakaian orang Arab, atau pakaian tokoh-tokoh Arab. Terakhir harus rajin dan
disiplin tepat waktu shalatnya. Ini sudah betul-betul menjadi orang Islam yang
ideal menurut paham Islam baru. Sekali lagi marilah kita saling menghormati adanya
keyakinan yang berbeda ini. Bagi para Sesepuh tidak dihormatipun tidak apa, diejekpun
tidak akan marah, asal jangan dipaksa untuk harus mengikuti pahamnya. Untuk
mempertahankan atau untuk meningkatkan derajat ke Islamannya para Sesepuh tidak
memamerkan kelebihannya, tetapi kelebihannya malah ditutup-tutupi, yang
dipamerkan dan ditonjolkan malah kekurangannya, kebodohannya, kelemahannya,
keringkihannya. Untuk meningkatkan derajat keIslamannya, para Sesepuh giat
melatih: sabar, rela, syukur (narimo), jujur, menyayangi dan menghormati orang
lain, merendahkan diri, jangan menyinggung perasaan orang lain, jangan
menyusahkan atau merepotkan orang lain, jangan sampai dibenci orang, jangan
sampai punya musuh dan seterusnya. Dari sinilah lahirnya Budipekerti yang luhur,
Dan dari sini pula Allah mengangkat seseorang menjadi orang Islam, orang Musrid,
orang Sepuh, bukan karena shalatnya. Bagi para Sesepuh, penembah itu tidak
hanya shalat, tetapi banyak cara , sehingga tiap suku bangsa punya cara sendiri-sendiri
yang berbeda-beda.
Menurut para Sesepuh,
panembah yang bisa diterima Allah itu yang tidak ditonjol-tonjolkan, cukup sinimpen
telenging kalbu (Wedhatama) artinya cukup disimpan dalam lubuk hati. Inilah
sebabnya maka para Leluhur dulu dalam mendidik anak dan menyelenggarakan Pendidikan Nasional, lebih
mengutamakan Pendidikan Budipekertinya dari pada memaksakan shalatnya.
Pemaksaan shalat di sekolah-sekolah adalah melanggar hak asasi dan malah memberi
peluang besar lahirnya jiwa-jiwa yang fanatis, ekstrimis bahkan teroris dan
menghapus jiwa-jiwa Nasionalis sejati, jiwa-jiwa Pancasilais sejati, jiwa-jiwa Bhinekais
sejati. Hilangnya Pendidikan Budiperkerti di sekolah-sekolah memberi peluang
besar lahirnya jiwa-jiwa serakah dan kebobrokan moral. Jiwa-jiwa serakah
jurusannya ke koruptor, penipu, pembegal, pembobol, penggedor dan sebagaiya. Kebobrokan
moral jurusannya ke pelecehan seksual, pemerkosaan, sodomi, suka meremehkan
orang lain, suka membuat onar, suka tawuran, merasa dirinya paling benar, dan
sebagainya. Allah
juga mengingatkan kita agar kita menekuni kitab kita masing-masing, Al-Quran
menyebutkan:
Surat
Al-Bakaroh (2) ayat 121
“Alladziina aatainahumul kitaaba yatluunahuu haqqa tilaawatihii, uulaa ‘
ika yu’minuunabihi, wamayyakfurbihii faa uulaa’ika humul khaasiruun.”
Artinya:
"Orang-orang
yang kami turunkan kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benarnya membaca.
Mereka itu beriman kepada kitab itu; dan siapa yang ingkar akan dia (kitab
itu), mereka itulah orang-orang merugi.
Allah yang Maha
Kasih dan Maha Adil telah menyebarluaskan agama satu-satunya secara langsung
supaya adil dengan bahasa mereka masing-masing supaya jelas. Tetapi sayang,
bahwa ternyata banyak umat yang malah mengingkari kitab jatahnya sendiri dan merasa
lebih suka dan lebih bangga jika mempelajari kitab jatah suku bangsa lain yang
menggunakan bahasa lain pula. Mempelajari kitab jatahnya sendiri yang ditulis
dengan tulisan dan bahasanya sendiri saja masih banyak menemui kesulitan. Apalagi
kalau mempelajari kitab jatah suku bangsa lain yang ditulis dengan tulisan dan
bahasa lain pula, maka pasti akan rugi, sebab harus mempelajari huruf dan
bahasa suku bangsa lain dulu. Jelas akan rugi waktu, rugi tenaga, dan rugi
pikiran. Tetapi memang sudah menjadi tabiatnya bahwa manusia itu suka mencari-cari
kesulitan, suka coba-coba melanggar aturan, suka coba-coba menentang larangan, suka
nyrempet-nyrempet bahaya dan seterusnya. Hanya orang-orang yang punya nalar Sepuh
saja yang suka menaati aturan, suka menjauhi larangan, suka menghindari bahaya
dan seterusnya. Makanya salut kita kepada umat Hindu yang mempelajari Wedanya,
umat Buddha yang membaca-baca Tripitakanya, umat Nasrani yang menekuni Injilnya,
orang Jawa yang menggeluti Sasangka Jatinya, orang-orang Arab yang mengkaji Al-Qurannya,
dst. Mari kita berlomba dalam kebaikan, karena kebaikan adalah syarat mutlak
untuk bisa diangkat menjadi orang Islam, orang Mursid, menjadi Sesepuh. Jangan
serakah orang lain dipaksa supaya mempelajari kitabnya sendiri, dan kitab orang
lain diperoloknya.
Agama Islamnya
Allah yang seharusnya abadi keasliannya untuk sepanjang masa ini, selalu saja
terancam berubah atau rusak akibat dari ulah para ahli kitabnya yang tidak
mendapat petunjuk tetapi malah mendapat kesesatan (14) 04, (16) – 36, sehingga
petunjuk-petunjuk Allah tidak lagi bisa melahirkan orang-orang Mursid. Makanya
Allah mengingatkan dalam Al-Qur`an:
Surat
Ali Imran (3) ayat 69 :
“Waddat
thaa’ifatun min ahlil kitaab lauyudlilluunakum, wa maa yudlil luuna illaa anfusahum
wa maa yasy’uruun.
Artinya:
"Segolongan
diantara orang-orang ahli kitab bercita-cita hendak menyesatkan kamu dan tiadalah
mereka menyesatkan (orang lain) kecuali diri mereka sendiri, tetapi mereka
tiada sadar."
Surat
Ali Imran (3) ayat 70 :
“Yaa
ahlal kitaab, lima takfuruuna bi aayaatillaahi wa antum tasyhaduun.”
Artinya:
"Hai,
orang-orang ahli kitab, mengapa kamu kafir akan ayat-ayat Allah, sedangkan kamu
mempersaksikannya.”
Surat
Ali Imran (3) ayat 71 :
“Yaa
ahlal kitaab, lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum
ta’laamun.
Artinya:
"Hai,
orang-orang ahli kitab, mengapa kamu percampurkan yang haq dengan yang batil, dan
kamu sembunyikan yang haq itu, sedangkan kamu mengetahuinya."
Jadi banyak ahli
kitab yang sengaja ingin menyesatkan orang lain, dengan maksud jika dia
tersesat supaya banyak temannya.Banyak ahli kitab yang mengkafiri petunjuk2
Allah, karena pelaksanaannya sangat berat dan sangat sulit, maka di-karang2nya aturan
atau cara lain. Banyak ahli kitab yang me-nukar2 yang haq dengan yang batil,
untuk mencari kemudahan atau keringanan, dst. Ada yang tendensinya untuk
membuat agamanya supaya lebih hebat dan lebih unggul dari pada agama2 lainnya.
Semua ini dilakukan untuk memenuhi nafsu permusuhannya, akibat dari kesesatan
yang telah diterimanya. Sebab orang yang mendapat petunjuk, pasti akan menuruti
nafsu ingin rukun dan damainya Akibat dari ulah para ahli kitab (dari
masing-masing agama) inilah yang meyebabkan rusaknya keaslian agama Allah. Akibat
selanjutnya agama Allah ini lalu terpecah belah menjadi beberapa golongan agama
yang berbeda-beda paham dan kepercayaannya. Ajaran Rasul yang satu pahamnya
menjadi jauh bedanya dengan ajaran Rasul lainnya. Bahkan dari intern ajaran
seorang Rasul saja, sekarang telah terpecah belah menjadi beberapa golongan
yang berbeda-beda pahamnya. Hanya paham Islam lama yang tidak pernah mengalami
perubahan, bahkan antar Rasul pun akan tetap sama, tidak pernah terpecah belah,
tidak pernah berubah. Sebab kalau ada ahli kitab yang ingin mengubah dan ingin memaksakan
kehendaknya, para penganut paham Islam lama sudah tahu dan tidak akan mau
dipaksa. Hanya pada Pemerintahan Orde Baru ini saja para penganut paham Islam
Lama tidak berani menentang, sebab Pemerintah sendiri malah ikut membantu
pemaksaan kehendak ini. Rupa-rupanya Pemerintahan Orde Reformasi inipun tetap
melestarikan sepak terjang Pemerintahan Orde Baru untuk tetap membantu
berkembangnya paham Islam baru ini. Baru wacananya saja ingin mengadakan Revolusi
Mental, tetapi kalau paham Islam lama ini tidak diberi kesempatan untuk bisa
dikenal kembali oleh masyarakat, maka wacana itu pun hanya akan tetap tinggal
wacana yang kosong, yang tidak akan bisa merubah watak bangsa ini..
Apabila agama Allah
ini telah dirusak oleh para ahli kitabnya sendiri sehingga sudah tidak bisa
melahirkan orang-orang Mursid, orang-orang Islam, yang bisa menyelamatkan dunia
dari ancaman kiamat, maka tanda-tanda kiamatpun akan diturunkan Allah ke dunia
berupa bencana alama seperti pemanasan global, air laut naik daratan terancam
tenggelam, banyak gempa bumi yang dahsyat, tanah longsor, tanah terban, banyak angin
ribut yang kuat, banyak banjir bandang, banyak kebakaran, banyak wabah penyakit
baru yang gansas, banyak peperangan, banyak kerusuhan dan kejahatan, banyak
kendaraan darat bertumburan, kendaraan laut bertenggelaman, kendaraan udara
berjatuhan, dan sebagainya. Dalam hal yang seperti ini hanya orang-orang yang
sudah Islam atau sudah Mursid yang akan diselamatkan Allah dari segala bentuk
bencana dan musibah itu. Karena Allah Maha Kasih dan Maha Sayang, setiap kali
agamaNya telah dirusak umat sehingga tidak bisa melahirkan orang-orang Mursid
baru, maka Allah akan mengutus Rasul baru ke dunia untuk mengembalikan
kebenaran agama Allah itu. Allah tidak akan dan tidak mungkin mengutus Rasul
baru yang mengajarkan agama baru yang tidak sama dengan agama para Rasul
sebelumnya. Bagi para umat dan para ahli kitab yang tidak mendapat petunjuk tetapi
malah mendapat kesesatan pasti akan menentang mentah2 atau mungkin malah akan memusuhi
setiap kali ada Rasul baru yang diturunkan ke dunia. Ini adalah suatu rutinitas
klasik yang selalu timbul jika ada Rasul baru. Hanya penganut paham Islam lama
saja yang
selalu tenang, sebab sudah hafal isi agama Allah yang sudah ribuan tahun
digeluti orang secara turun temurun. Tinggal diteliti saja ajaran Rasul baru
itu, kalau sama dengan agama Allah yang sudah ada, kita wajib menghormati dan
mensyukuri. Tetapi kalau mengajarkan agama baru yang tidak sama dengan agama
Allah yang sudah ada, maka kita wajib menolak jika kita diajak mengikutinya. Bagi
orang yang menolak mentah-mentah tanpa pertimbangan atau malah memusuhi, ini adalah
orang-orang yang mengkafiri petunjuk Allah dalam Al-Quran (2) – 136, (3) – 84,
(4) – 163, serta surat Al
Furqn sepeti di bawah ini:
sSurat
Al Furqan (25) ayat 51 :
“Wa
lausyi’naa la ba’atsnaa fii kuii qaryatin nadziira.”
Artinya:
"Jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami utus seorang (Rasul) yang memberi peringatan pada tiap-tiap negeri."
"Jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami utus seorang (Rasul) yang memberi peringatan pada tiap-tiap negeri."
Kapan Allah
menghendaki mengutus Rasul baru ? Yaitu kalau agama Allah sudah dirusak
umat. Isi ajarannya akan tetap sama dengan isi ajaran para Rasul yang lebih
dahulu. Sebenarnya masih banyak hal-hal penting lainnya yang belum ditulis, antara
lain bagaimana para Sesepuh menafsiri Rukun Islam dan lain-lainnya, tetapi
untuk sekedar bisa tahu bahwa penafsiran Islam itu ada dua golongan besar yang
berbeda, yang masing-masing mengaku yang benar, maka uraian ini pun cukuplah
kiranya untuk memberi gambaran, bahwa paham Islam baru yang telah berhasil
memaksakan kehendaknya sehingga paham Islam lama punah ini hasilnya telah
membuat punah pula jiwa-jiwa Nasionalis jiwa-jiwa Pancasilis dan Budipekerti
luhur, maka apa salahnya kalau paham Islam lama ini diberi kesempatan untuk
bangkit kembali agar dikenal oleh masyarakat lagi. Setelah masyarakat tahu,
biar masyarakat membandingkan sendiri dan memilih sendiri, mana yang cocok
dengan nalarnya, jangan sampai ada pemaksaan lagi. Mereka punya hak asasi yang
harus kita hormati.
Bagi para pembaca yang sependapat dengan isi
tulisan ini, penulis ingin mengajak untuk membentuk suatu kerukunan yang kira2
pantas untuk diberi nama Kerukunan Kasepuhan. Pesertanya tidak harus orang yang
sudah tua, tetapi para muda-mudi yang nalarnya sependapat dengan nalar Sepuh
ini, bisa menjadi warga, bahkan bisa menjadi kadernya. Sebab jaman dulu banyak
muda-mudi yang bernalar Sepuh, dan banyak pula orang2 tua yang nalarnya tetap
muda seperti sekarang ini. Penulis menunggu tanggapan dari para pembaca.
pak minta nomor hapenya bisa kirim email ke saya 085799591111
BalasHapus