Senin, 13 Juni 2016

BAB 1 : PERUBAHAN WATAK BANGSA INDONESIA

PERUBAHAN WATAK BANGSA INDONESIA

Bagi para lansia yang umurnya di atas 80 tahun, akan masih bisa ingat, karena ikut menjadi pelakunya, yang ikut merasakan sendiri, ikut menyaksikan sendiri dan ikut mengalami sendiri, berubahnya watak bangsa kita ini antara dulu sebelum tahun 1965 dengan sekarang sesudah tahun 1965. Dulu watak bangsa kita ini terkenal sampai ke luar negeri, sebagai bangsa yang berbudipekerti luhur, ramah-tamah, cinta damai, cinta saling menghormati, cinta saling menolong, berjiwa Nasionalis yang sejati, berjiwa Pancasilais yang sejati, pecinta Bhineka yang sejati dan seterusnya yang kesemuanya adalah yang serba terpuji. Tetapi sekarang telah berbalik arah 180˚ berubah menjadi bangsa yang egois, sadis, fanatis, ekstrimis, bahkan teroris dan seterusnya yang kesemuanya itu adalah yang serba tercela. Kejahatan dan pembunuhan terjadi dimana-mana, nyawa manusia seperti tidak ada harganya, sehingga kehidupan masyarakat menjadi resah, was-was, khawatir. Suasana Pemerintahan menjadi tidak aman. Sebagaian besar dari para cerdik pandai, menyebutkan bahwa penyebab berubahnya watak bangsa kita ini adalah karena banyaknya kemiskinan dan pengangguran. Tetapi menurut pendapat para lansia yang ikut mengalami sendiri, ikut merasakan sendiri dan ikut menyaksikan sendiri ini, alasan karena banyaknya kemiskinan dan pengangguran itu adalah tidak tepat. Sebab kenyataanya dulu sejak bangsa kita ini masih dijajah oleh Belanda, ganti dijajah oleh Jepang, sampai zaman merdeka di zaman Orde Lama-nya Bung Karno, rakyat Indonesia ini adalah miskin semua, seluruh pemudanya pengangguran semua, tetapi kehidupan masyarakatnya penuh dengan kerukunan dan kedamaian, semangat gotong royongnya tinggi, semangat tolong menolong dan hormat menghormatinya tinggi. Sekarang yang taraf kehidupan masyarakatnya sudah jauh lebih baik dari pada waktu itu, malah watak bangsanya menjadi sangat tercela, suka mengumbar hawa nafsu dan angkaranya. Jadi menurut pendapat para lansia ini berubahnya watak bangsa kita Indonesia ini, tak lain dan tak bukan adalah karena telah berubahnya pandangan hidup yang dianutnya. Pandangan hidup yang lunak akan membentuk watak yang lunak, pandangan hidup yang keras akan membentuk watak yang keras pula. Pandangan hidup yang mengikuti petunjuk Allah, akan membawa masyarakat ke kehidupan yang aman damai dan tenteram, pandangan hidup yang menyimpang dari petunjuk Allah, akan membawa msyarakat ke kehidupan yang suka berselisih saling bermusuhan.

  Sebelum tahun 1965 pandangan hidup bangsa kita ini menganut paham Islam lama, sedang sesudah tahun 1965 pandangan hidup bangsa kita ini menganut paham Islam baru. Perbedaan paham antara Islam lama dengan Islam baru ini jauh sekali, bahkan boleh dikatakan sangat berlawanan. Makanya sangat rawan untuk timbul konflik. Untuk menghindari konflik ini, maka paham Islam lama banyak mengalah, tidak suka merperselisihkan perbedaan pendapat. Tetapi kalau lama-kelamaan paham Islam baru semakin berani untuk memaksakan kehendaknya, sehingga paham Islam lama menjadi semakin punah seperti sekarang ini, maka Pemerintah seharusnya bertindak adil, semua harus diayomi, harus dilindungi, bukan seperti sekarang ini, Pemerintah malah membantu berkembangnya paham Islam baru dan tidak peduli terhadap nasib paham Islam lama yang dulu dipertahankan (dibela) oleh pemerintah Orde Lama. Mestinya antara paham Islam baru dengan paham Islam lama harus hidup berdampingan, saling menghormati, harus rela ada orang lain yang punya paham lain. Sebab yang berhak dan berwenang menilai kebenaran agama itu bukan sesama manusia, juga jangan Pemerintah, tetapi Allah sendiri. Biar Allah sendiri yang menghakimi mana yang benar dan mana yang salah. Antara kita wajibnya saling menghormati. Pemerintah wajibnya melindungi semua secara adil, jangan berat sebelah, jangan dibiarkan kalau ada golongan yang memaksakan kehendaknya, jangan segan menindak tegas siapa yang berani membuat onar merusak kerukunan.

  Paham Islam lama ini sudah sejak ribuan tahun yang lalu dianut dan dilestarikan oleh para Leluhur kita, bahkan juga oleh para Leluhur-Leluhurnya umat di dunia ini. Sedang paham Islam baru ini, dulu ditentang keberadaanya oleh para Leluhur kita. Sebab kata para Leluhur, banyak paham yang justru bertentangan dengan isi Al-Quran sendiri, sehingga nantinya akan merusak Islam sendiri dari dalam. Waktu itu para Leluhur kita telah mengkhawatirkan dan meramalkan, jika paham Islam baru ini berkembang, nanti-nantinya akan ada orang Islam yang kekejamannya melebihi kekejaman orang PKI. Dulu tahun 1947 pemberontakan PKI pecah di \Madiun. Orang-orang PKI dengan kejamnya membunuh orang-orang yang tidak berdosa, yang mereka anggap sebagai musuh. Untung pemberontakan itu masih bisa dipadamkan. Waktu itu yang namanya orang membunuh orang, ini langka sekali terjadi, tidak seperti sekarang. Jadi kalau sekarang sudah ada orang Islam (Teroris) yang kekejamannya melebihi kekejaman orang PKI, ini berarti kekhawatiran dan ramalan para Leluhur kita itu telah terbukti. Dulu penganut paham Islam baru ini masih sedikit dan mengelompok dalam satu partai, yaitu partai Masyumi. Cita-citanya ingin mendirikan negara Islam, yang pahamnya adalah paham Islam baru seperti sekarang ini. Cita-cita ini banyak ditentang oleh banyak partai. Bahkan partai NU sendiri sebagai partai Islam, juga tidak setuju dengan cita-cita Masyumi ini, tetapi malah rukun dengan partai-partai Nasional lainnya (PNI), ingin ikut mempertahankan negara yang berdasar Pancasila.

  Bukti bahwa dulu para leluhur kita pernah menentang berkembangnya paham Islam baru ini, yaitu dalam musyawarah penyusunan pembukaan UUD 1945. Paham Islam baru mengusulkan agar Sila Pertama dari Pancasila ditambah kata-katanya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya. Usulan ini ditolak oleh para Leluhur kita yang kebanyakan adalah penganut paham Islam lama, sebab dikhawatirkan nanti pasti akan terjadi adanya pemaksaan kehendak. Al Qur’an sendiri melarang adanya pemaksaan dalam agama. Kalau usulan itu disetujui, nanti pasti akan timbul pemaksaan kehendak yaitu orang yang mengaku Islam akan dipaksa supaya sholat, supaya zakat, fitrah, amal dan lain-lain. Pada waktu itu istilah orang Islam harus shalat ini hanya berlaku dikalangan paham Islam baru saja. Paham Islam lama masih menentangnya dan Pemerintah masih di pihak Islam lama. Akhirnya usulan itu gagal dan Sila Pertama dari Pancasila tetap berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” begitu saja sampai sekarang. Jadi perjuangan agar rencana pemaksaan kehendak ini bisa dipayungi hukum, tetap tidak berhasil.

Tetapi sayang, pemberontakan PKI Tahun 1947 yang masih bisa digagalkan, pada tahun 1965 meletus lagi yang lebih dahsyat dan yang sepertinya memberi peluang emas bagi paham Islam baru untuk melaksanakan pemaksaan kehendaknya demi terwujudnya Negara Islam seperti yang dicita-citakannya. Pada waktu itu semua partai menyetujui jika partai PKI dibubarkan dan dilarang untuk di Indonesia. Paham Islam baru mulai tampil untuk memanfaatkan situasi guna memaksakan kehendaknya. Usul kepada Pemerintah agar semua orang harus memeluk salah satu agama yang ada. Yang tidak mau, dicapnya sebagai orang PKI yang harus dibrantas. Pemerintah pun seperti kerbau yang dicucuk hidungnya yang hanya tinggal menurut saja. Sebab tiap aparat pemerintah pribadi-pribadi orangnya yang takut di PKI-kan jika tidak menuruti. Maka terlaksanalah semua orang masuk ke salah satu agama yang sudah diakui oleh Pemerintah. Kemudian orang yang mengaku sebagai orang Islam, dipaksanya supaya harus shalat. Aliran-aliran Kebatinan, aliran Ke Sepuhan, aliran Ke Jawen dan sebagainya diusulkan agar dibubarkan dan anggotanya harus memeluk salah satu agama, sebab aliran-aliran kepercayaan itu bukan agama katanya. Untung saja Pemerintah tidak menuruti, sebab orang-orangnya lebih shaleh, lebih sabar-sabar dari pada orang-orang Islam baru itu sendiri. Paham Islam lama yang dulu pernah menentangnya, sekarang dicapnya sebagai Islam yang sudah tidak murni lagi, sudah kecampuran budaya daerah, sudah kecampuran tradisi daerah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai Islam yang sudah kemasukan ajaran PKI, sehingga banyak orang yang menjadi takut. Pada waktu itu kalau ada kata PKI, semua orang menjadi takut, tak ada seorangpun yang berani menanggapinya.

Kemudian lagi-lagi paham Islam baru mengusulkan agar pelajaran Pendidikan Budipekerti disekolah-sekolah dihapuskan dan diganti dengan pelajaran agama langsung. Lagi-lagi di sini Pemerintahpun seperti kerbau dicucuk hidungnya yang hanya manut-manut saja. Pribadi aparat-aparatnya tidak berani menolak, takut di PKI-kan. Pendidikan Budipekerti di sekolah dihapus, diganti pelajaran agama langsung. Sudah barang tentu guru agama akan sangat kurang. Untuk memenuhi kekurangan guru agama Islam, Pemerintah membuka kursus kilat pendidikan guru agama Islam. Waktu itu untuk mencari anak muda/mudi tamatan SMP saja masih sangat sulit. Maka anak muda-mudi tamat SD pun jadilah. Bahkan banyak teman penulis dan bekas murid penulis yang hanya baru tamat kelas 5 bisa diterima menjadi guru agama Islam untuk mengajar di SD lalu menjadi teman penulis. Lagi-lagi pemaksaan kehendak diterapkan lagi, semua murid dipaksa harus mengikuti pelajaran agama, yang tidak mau mengikuti di PKI-kan. Maka semua murid terpaksa harus mengikuti pelajaran agama. Khusus untuk agama Islam yang diajarkan/buku pegangannya adalah paham Islam baru. Murid-murid yang sebagian besar adalah anak penganut paham Islam lama dan yang sangat didambakan oleh para orang tuanya untuk menjadi penerus dan pelestari dari paham Islam lama dan budaya orang tuanya yang bersumber dari paham Islam lama, telah diputus paksa dengan digencar ajaran paham Islam baru sejak dini. Sekarang bisa kita lihat dan kita saksikan bersama hasilnya, bagaimana watak bangsa Indonesia yang dididik dengan Pendidikan Budipekerti dulu sebelum 1965 dengan watak bangsa Indonesia sekarang yang dididik dengan pelajaran agama Islam baru langsung, sesudah tahun 1965. Orang mau mengakui atau tidak mau percaya atau tidak, kenyataan telah membuktikan. Watak bangsa menjadi keras, ekstrim. Yang calon generasi bangsa sudah bisa berhasil dididik dengan ajaran paham Islam baru sejak disekolah-sekolah paling bawah. Kepada masyarakat yang sudah terlanjur menganut paham Islam lama dimana-mana diadakan pengajian-pengajian. Orang yang mengaku beragama Islam dipaksa untuk harus menghadiri pengajian-pengajian itu. Yang tidak mau hadir diintimidasi atau diboikot. Isi pengajiannya adalah paham islam baru. Mula-mula pengajian-pengajian begini ini harus ada izin dari polisi untuk diawasi agar jangan sampai menyinggung-nyinggung agama lain yang bisa menimbulkan konflik. Lama-lama usul agar pengajian tidak perlu meminta izin, tidak perlu diawasi polisi. Alasannya menyebarkan agama Allah pasti menyebarkan kebaikan dan kebenaran, sehingga tidak perlu diawasi. Pemerintah (Polisi) menerima usulan itu, sehingga pengajian-pengajian bisa bebas tanpa diawasi polisi. Lama-lama dari sedikit mulai ada kata-kata yang menyinggung agama lain. Makin lama makin banyak dan makin berani mengeluarkan kata-kata yang menyinggung agama lain ini. Saking kerapnya terjadi, lama-lama menjadi suatu hal yang biasa. Sayangnya Pemerintah (Orde Baru) bukannya mencegah, tetapi malah membantunya, bahkan Pemerintah Orde Baru menyelenggarakan penataran P.4 kepada para PNS dan masyarakat, isinya juga paham Islam baru. Maka sempurnAllah sekarang ini paham Islam baru untuk menjadi pandangan hidup bangsa. Istilah-istilah milik paham Islam baru yang dulu ditentang oleh paham Islam Lama dan Pemerintah Orde Lama sekarang telah menjadi milik bangsa dan negara. Tinggal segelintir dua gelintir lansia saja yang tetap mempertahankan Islam Lamanya, sebab memang mempunyai landasan dalil-dalil yang jelas dan kuat yang justru malah diingkari oleh paham Islam baru.
Menurut pendapat para lansia yang masih melestarikan paham Islam lama ini, rusaknya watak bangsa Indonesia ini hanya dapat disembuhkan kembali seperti dulu itu hanya dengan jalan mengembalikan paham Islam lama ini. Dengan kembalinya pandangan hidup bangsa yang menganut paham Islam lama bukan hanya watak bangsa yang akan kembali seperti dulu, yaitu kepribadian yang luhur, tetapi juga akan mencegah berkembangnya paham fanatis, ekstrimis, teroris, ISIS, dst. Juga akan menumbuh suburkan kembali lahirnya jiwa-jiwa Nasionalis, jiwa-jiwa Pancasilais jiwa-jiwa Bhinekais akan menumbuh suburkan kerukunan antar agama dan antar suku. Ini berarti bahwa paham Islam lama harus digali kembali dan disiarkan kepada masyarakat tanpa paksaan, sebagai pembanding paham Islam baru, biar masyarakat membanding-bandingkan sendiri, mempertimbangkan sendiri yang akhirnya biar memilih sendiri, mana yang paling cocok dengan nalarnya.

Kalau dulu Pemerintah Orde Baru pernah menyelenggarakan penataran P.4 yang materinya adalah paham Islam baru ini, maka Pemerintah Orde Reformasi sekarang ini sebaiknya juga harus menyelenggarakan penataran P.4 untuk mengimbangi, yang materinya adalah paham Islam lama. Ini cocok dengan pendapat Bapak Prof. Dr. Taufik Kiemas Almarhum yang memandang perlu adanya penataran P.4 lagi bagi bangsa ini, dan sesuai pula dengan program Bp. Ir. Joko Widodo yang ingin mengadakan Revolusi Mental. Lahirnya organisasi Gafatar, lahirnya paham komunis/PKI baru, lahirnya Indonesia menggugat, lahirnya tulisan ini mungkin ada lagi yang lain, ini adalah tanda-tanda tidak puasnya hati masyarakat kepada Pemerintahan sekarang ini yang tetap melestarikn langkah Pemerintahan Orde Baru yang tidak adil mengayomi agama yang ada, tetapi malah menjadi kaki tangan paham Islam baru. Kecuali penataran P.4 kepada masyarakat, yang tidak kalah pentingnya adalah mengembalikan Pendidikan Budipekerti di semua jenjang pendidikan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Pendidikan Budipekerti dikembalikan ke sekolah, malah harus ditingkatkan penanganannya. Sedang pelajaran agama tetap harus dihapuskan dari sekolah, biar diperdalam diluar sekolah, sesuai dengan keyakinan orang tuanya masing-masing, sebab yang namanya agama Islam sendiri saja paham keyakinannya sudah ada beberapa macam golongan yang berbeda-beda, yang tiap-tiap golongan tidak ingin untuk dipaksa agar mau mengAllah untuk mengikuti paham lainnya. Sampai saat ini yang menguasai pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah adalah paham Islam baru yang jelas-jelas pahamnya bertolak belakang dengan paham Islam lama dan paham agama-agama lainnya. Kalau pelajaran agama ingin tetap diajarkan di-sekolah-sekolah, maka sebaiknya gantian, materi pelajarannya diganti paham Islam lama. Kalau ini yang diterapkan, pendidikan Budipekerti tetap dihapuspun tidak jadi apa, sebab paham Islam lama memang menjadi sumber lahirnya Pendidikan Budipekerti. Bahkan paham Islam lama ini bisa diterima dan diikuti oleh semua agama yang ada, Dan yang sangat penting dan perlu diingat bahwa paham Islam lama ini sumbernya juga dari Al-Qur’an, tetapi bisa diterima oleh semua suku bangsa karena memang menyatukan semua bangsa, dan bisa diterima oleh semua agama yang ada, karena memang menyatukan semua agama yang ada. Selain itu semua, pelajaran agama paham Islam lama bahkan bisa mencegah lahirnya jiwa-jiwa egois, fanatis, ekstrimis, teroris, dan ISIS. Bagi Pemerintah semua ini adalah hal yang mudah untuk diwujudkan sebab Pemerintah punya kekuasaan dan punya kekuatan. Kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi? Apa perlu menunggu sampai negara ini hancur dulu seperti Irak, Siria dan sebagainya yang setiap saat ada bom bunuh diri, bom mobil, bom waktu dan sebagainya.



















PAHAM ISLAM LAMA

Di sini digunakan istilah paham Islam lama dan paham Islam baru, ini bukanlah nama yang resmi atau yang definitif, tetapi hanya untuk membedakan saja adanya dua paham Islam yang sangat jauh beda umurnya dan sangat jauh beda pahamnya. Paham Islam lama sudah ribuan tahun atau bahkan sudah jutaan tahun yang lalu sudah dihayati dan dilestarikan oleh para Leluhurnya umat di dunia ini, sedang paham Islam baru, ini baru lahir sesudah agama Islamnya Nabi Muhammad berjalan beberapa tahun kemudian. Semula agama Islamnya Nabi Muhamad inipun adalah juga paham Islam lama ini, tetapi lama-lama lahirlah paham Islam baru yang dari sedikit mulai menyimpang dari paham Islam lama. Makanya Nabi Muhammad sendiri pernah menangis, menangisi umatnya yang besok-besoknya akan ada yang salah menafisiri makna Islam dan sAllah menerapkan ajaran Islam ini. Kecemasan Nabi ini telah menurun kepada para Leluhur kita, sehingga para Leluhur kita telah menolak usulan perubahan kalimat pada sila pertama dari Pancasila yang diusulkan oleh para tokoh-tokoh Islam baru dalam muyawarah penyusunan naskah pembukaan UUD 1945 dulu. Paham Islam lama ini dulu pernah menjadi pandangan hidup bangsa kita, telah memotivasi kehidupan bangsa kita, telah mendarah daging di kehidupan bangsa kita, sehingga kehidupan di masyarakat adanya hanya serba rukun dan damai, cinta saling menghormati, cinta saling menolong, berjiwa Nasionalis yang sejati, berjiwa Pancasilais yang sejati, menghormati semua agama, dst. Oleh karena inilah maka paham Islam lama ada yang menyebutnya paham Islam Nasional. Karena yang rajin menaati dan getol mempertahankannya kebanyakan adalah orang Jawa, maka paham Islam lama ini ada yang menyebutnya paham Islam Jawa.

Paham Islam lama berpendapat bahwa Allah yang hanya Satu itu ( Hyang Maha Esa ) menciptakan agama juga hanya satu. Agama yang hanya satu-satunya ini telah disusun dengan sangat benar, sangat sempurna, sangat religius dan sangat Adi Luhung, makanya oleh Allah juga diharap agar abadi sepanjang masa. Tidak boleh ditambah ataupun dikurangi, tidak boleh diubah-ubah, tidak boleh dipolitisir, tidak boleh dimodernisir untuk menyesuaikan dengan perubahan dan kemajuan zamannya. Agama Allah yang sudah sangat sempurna ini, selalu relevan dengan perubahan dan kemajuan zamannya walaupun zaman ini akan maju terus dan berubah terus seperti apapun modernnya. Eloknya bagi siapa yang mau mempelajari agama Allah ini, akan selalu memetik hasil yang serba baru dan serba elok baginya,yang belum pernah ditemui dimanapun dan kapanpun. Makanya tidak mungkin Allah menciptakan banyak agama yang berbeda-beda tetapi benar semua. Juga tidak mungkin Allah menciptakan banyak agama ada yang benar dan ada yang salah. Jadi Allah yang hanya Satu, agamaNya pun hanya satu. Pada umumnya masyarakat ini, kalau mendengar kata Islam, asumsinya mesti kepada Al-Quran. Ini memang benar sekali, sebab Al-Qur’an memang menjadi pedoman utama bagi umat Islam, termasuk paham Islam lama, meskipun paham Islam lama ini sudah dihayati dan diterapkan orang jauh-jauh hari sebelum Al-Quran turun. Karena Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci Allah yang terjaga kemurniannya sejak awal diturunkan sampai sekarang, maka agama Allah yang hanya satu-satunya itupun disebut-sebut juga di dalamnya. Bahkan juga menjadi pokok penjelasan dalam Al-Quran itu. Bukti bahwa agama Allah hanya satu disebutkan dalam Al Quran.

Surat Al-Baqaroh (2) ayat 136
Quuluu aamannaa billaahi wa maaunzila ilainaa wa maaunzila ilaa Ibraahiim wa-Ismaa‘iila wa-Ishaaq wa Ya’ qub waal-asbaathi wa maa uutiya Muusaa wa’Isaa wamaa uutiya alnnabiyyuuna min rabbihim laa nufarriqu baina ahadin minhum wanahnu lahu muslimuun
Artinya:
Katakanlah: "Kami telah beriman kepada Allah dan (kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya yang diturukan kepada Musa dan Isa dan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah."

Surat Ali-Imran (3) ayat 84:
“Qul aamanna billaahi wamaa unzila ‘alainaa wa maa unzila alaa Ibrahim, wa Ismail, wa Ishaq wa Ya’qub wal asbaathi wa maa utiya Musa, wa Isa wannabiyyuuna mir rabbihim, laa nufarriqu baina ahadim minhum, wa nahnu lahuu mslimuun.
Artinya:
Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya dan apa-apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan nabi-nabi dari Tuhan Mereka, tidak lah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami tunduk kepada Allah."

        Dari ayat-ayat ini Allah telah mengingatkan kepada kita agar kita jangan membeda-bedakan para Nabi utusan Allah itu. Karena para Nabi utusan Allah itu sama derajat ke Islamannya, sama-derajat ke Mursyidannya, sama derajat ke Makrifatannya, sama derajat ke Nabiannya, dan sama derajat ke Rasulannya. Inilah sebabnya maka para penganut paham Islam lama tidak pernah mengagung-agungkan salah satu dari para nabi utusan Allah itu. Semua nabi harus kita perlakukan dan kita hormati sama derajatnya. Kecuali ini semua, yang juga tidak boleh dibeda-bedakan adalah agama yang diturunkan Allah kepada para Nabi itu. Agama Allah yang diturunkan kepada para nabi itu sama yaitu agama milik Allah yang hanya satu-satunya itu. Saking pentingnya peringatan agar kita jangan membeda-bedakan agama Allah ini, sampai diulang dua kali ayat peringatan itu diturunkan. Kalau masih kurang mantap, masih diulang lagi peringatan itu agar lebih jelas dan lebih mantap, bahwa agama Allah yang diwahyukan kepada para Nabi itu sama.

Surat An Nisa (4) ayat 163:
“Inna auhaninaa ilaika kamaa auhainaa ilaa Nuhin wan nabiyyiina min ba’dihii, wa auhainaa ilaa Ibrahim, wa Isma`il, wa Ishaq, wa Ya’qub wal asbaathi, wa Isa, wa Ayyub, wa Yunus, wa Haarun, wa Sulaiman, wa aatainaa Dawud Zabuur.”
Artinya:
"Sesungguhnya kami telah mewahyukan kepada engkau (Muhammad) sebagaimana kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya, dan kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya dan lagi kepada Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman dan Kami berikan Zabur kepada Dawud."

Surat An Nisaa (4) ayat 164:
“Wa rusula qadqashasnaahum alaika min qablu wa rusula lamnaqshush hum ‘alaika, wa kallamallaahu Musa takliimma.
Artinya:
"Ada beberapa orang Rasul telah kami kisahkan kepada engkau sebelum itu, dan ada beberapa Rasul (yang lain) tiada kami kisahkan kepada engkau; Allah telah bercakap-cakap dengan Musa sebenarnya bercakap-cakap."

Surat An Nisaa (4) ayat 152:
“Wal ladzina aamanuu billaahi wa rusulihii wa lam yufarriquu baina ahadim minhum ulaaika saufa yu’tihim ujuurahum wa kaanallaahu ghafuu rarrahim.”
Artinya:
"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulnya dan tiada memperbeda-bedakan seorangpun diantara Rasul-rasul itu, nanti Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah pengampung lagi Pengasih."

        Surat (4) ayat 163 ini lebih menjelaskan bahwa agama Allah yang diwahyukan kepada para Nabi itu sama, hanya agama milik Allah satu-satunya tadi. Agama Allah yang diwahyukan kepada para Nabi utusanNya itu juga diturunkan kepada para Nabi utusan Allah yang namanya tidak dikisahkan sesuai surat (4) ayat 164, antara lain Sang Budha, Sang Kong Hu Cu, Sang Sukma Sejati dan masih banyak lagi para Nabi yang tidak dikisahkan dalam kitab. Surat (4) ayat 152 ini lebih menekankan lagi, bahwa pahala Allah yang paling tinggi derajatnya, hanya akan diberikan kepada orang yang tidak membeda-bedakan Nabi Allah dan Agama Allah. Karena hanya mereka-mereka inilah yang sudah paham betul akan isi agama Allah itu, yang telah diterimanya dari para Leluhur sebelumnya secara turun-temurun sejak ribuan tahun yang lalu. Makanya hanya mereka inilah yang mau meyakini bahwa agama Allah itu hanya satu. Dalam Al-Quran agama Allah yang hanya satu-satunya itu disebutnya Islam.

Surat Ali Imran (3) ayat 19:
“Innaddiina `indallaahil Islam, wa makhtalafal ladziina uutul kitaaba illaa min ba`di maajaa`ahumul `ilmu baghya bainahum, wamayyakfur bi aayaatillaahi fa innallaaha sari`ul hisaab.
Artinya:
"Sesungguhnya agama (yang dibenarkan) disisi Allah ialah Islam. Tiadalah berselisih orang-orang ahli kitab melainkan setelah datang ilmu pengetahuan kepada mereka, karena ber-dengki-denkian sesamanya. Barang siapa yang kafir akan ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah bersegera menghisabnya."

        Dari ayat ini mulai kita temukan adanya dua penafsiran yang sangat jauh berbeda antara paham Islam lama dengan paham Islam baru. Oleh karena itu marilah kita saling menghormati antara kedua pendapat yang berbeda itu, karena yang namanya keyakinan orang pasti akan mempertahankannya sampai mati. Makanya Allah telah melarang adanya pemaksaan dalam hal agama ini. Sekali lagi marilah kita saling menghormati adanya dua pendapat yang berbeda ini. Jangan ada pemaksaan dari salah satunya.

        Paham Islam baru berpendapat bahwa yang namanya agama Islam itu adalah agama yang hanya diajarkan oleh Nabi Muhammad. Agama yang bukan ajaran Nabi Muhammad adalah bukan Islam. Jadi agama-agama: Hindu, Budha, Kristen, Katolik, Kong Hu cu, aliran-aliran Kepercayaan, aliran Kebatinan, aliran KeJawen, aliran Kasepuhan, Ngelmu Sejati, Ngelmu Kasampurnan, Ngelmu Kasunyatan, Ngelmu Panunggal, Ngelmu Luhung, dan lain2nya itu adalah bukan agama Islam, dan itu semua yang tidak dibenarkan oleh Allah. Makanya sebaiknya semua itu harus dilarang atau dibubarkan. Setidaknya harus diawasi dan dibatasi perkembangannya. Mentolerir mereka sangat tidak dibenarkan, apa lagi memberi pertolongan. Malah yang memusuhi mereka akan mendapat pahala, karena telah membela kebenaran Allah.
 Paham Islam lama penafsirannya lain lagi. Allah menciptakan agama itu hanya Satu. Dan agama Allah yang hanya Satu-satunya itulah yang dibenarkan oleh Allah. Kalau dalam ayat itu agama yang dibenarkan oleh Allah itu disebut Islam, maka yang dimaksud dengan Islam disitu tak lain dan tak bukan adalah hanya agama ciptaan Allah satu-satunya itu. Jadi kalau agama yang diwahyukan Allah kepada semua RasulNya itu sama, berarti semua Nabi utusan Allah itu menerima agama IslamNya Allah ini semua. Makanya semua Nabi utusan Allah itu agamanya Islam semua, termasuk yang namanya tidak dikisahkan. Walaupun sesebutan Islam ini baru diturunkan melalui Al Qur`an, tetapi agama IslamNya Allah ini telah disebar luaskan di muka bumi ini sejak ribuan tahun sebelum Al Qur`an diturunkan. Sebelum disebut Islam melalui Al Qur`an, apa sesebutan agama Allah ini, kita tidak tahu. Orang tahunya agama Allah yang diturunkan dinegara orang Hindu, disebutnya agama Hindu. Agama Allah yang diajarkan oleh Sang Budha, orang menyebutnya agama Budha. Agama Allah yang diajarkan oleh Sang Kristus, disebut orang agama Kristen. Agama Allah yang diajarkan oleh Sang Khong Hu Cu, orang menyebutnya agama Kong Hu Cu. Agama Allah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, mestinya harus disebut Muhammadiyah. Agama Allah yang diturunkan di Jawa, ada yang menyebutnya Ngelmu Sejati, Ngelmu Luhung, Ngelmu Kasunyatan, Ngelmu Kasampurnan, Ngelmu Panunggal, dan seterusnya. Walaupun yang menyebutkan agama Allah ini Islam adalah Al Quran, ini tidak berarti bahwa hanya Al Qur`an yang mengajarkan agama Islam, tetapi semua kitab suci Allah mengajarkan agama IslamNya Allah semua. Baca Al Quran Surat (2) ayat 136; Surat (3) ayat 84; Surat (4) ayat 163. Semua Nabi diutus Allah supaya menyebar luaskan agama IslamNya Allah ini kepada suku bangsa mereka masing-masing, jangan sampai keliru ke suku bangsa yang bukan bangsanya sendiri. Sebab Allah menciptakan manusia ini tidak hanya satu jenis, satu wajah raut muka, satu warna kulit, satu postur tubuh, dst, tetapi sangat beraneka. Disebutkan dalam Al Qur`an;

Surat Al Hujurat (49) ayat 13;
"Yaa ayyuhannaas, innaa khalaqnaakum min dzakariw wa untsa wa ja`alnaakum syuu`ubaw wa qabaaila lita`aarafuu, inna akramakum `indallaahi atqaakum, innallaaha `alimun khabiir."
Artinya;
"Hai, manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya orang yang termulia diantara kamu disisi Allah, ialah orang yang lebih taqwa. Sungguh Allah Mahamengetahui lagi Mahaamatmengetahui."

   Allah menciptakan manusia ada yang laki-laki ada yang perempuan, supaya ada saling mencintai sehingga akan selalu melahirkan generasi manusia yang baru yang akan selalu membawa perubahan dan kemajuan di dunia. Selain laki-laki dan perempuan, juga terdiri dari ribuan suku dan bangsa yang berbeda-beda warna kulitya, berbeda postur tubuhnya, berbeda-beda raut wajahnya, berbeda-beda bahasa dan budayanya, dst. Ini semua supaya dunia kelihatan indah menarik, dan ini bisa terwujud apabila manusia-manusia ini rukun, suka saling menolong. Sebenarnya Allah bisa saja menciptakan manusia ini hanya dengan satu jenis dan satu macam saja. Tetapi apakah bukan kita sendiri yang akan repot kalau kita harus menghadapi sesama manusia yang semuanya serba sama tidak laki2 tidak perempuan, raut wajahnya sama, postur tubuhnya sama, warna kulitnya sama, tua mudanya sama, dst serba sama? Jadi kalau sekarang ada manusia yang suka bermusuhan, itu jelas telah melanggar perintah Allah supaya rukun ini. Karena Allah sangat kasih sayang kepada seluruh umatNya ini tanpa pilih kasih suku dan bangsanya, maka kepada setiap suku bangsa ini Allah telah menyampaikan secara langsung agama Islam satu-satunya tadi melalui seorang Rasul. Al-Quran menyebutkan:

Surat An Nahl (16) ayat 36
“Wa laqad ba’ atsnaa fii kulli ummatin Rasuulaa ani’buduullaaha wajta nibuuththaaghuut, fa minhum man hadallaahu wa minhum manhaqqat ‘alaihi dhdhalaalatu, fasiiruu fil ardhi fanzhuruu kaifa kaana `aaqibatul mukadzdzibiin."
Artinya:
"Sesungguhnya telah Kami utus seorang Rasul kepada tiap-tiap umat, hendaklah kamu sembah Allah dan jauhilah thahut (berhala). Maka diantara mereka ada yang ditunjuki Allah, dan diantara mereka ada yang berhak mendapat kesesatan. Maka berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah, bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan Allah.

Surat Yunus (10) ayat 47
Wa likulli ummatir rasuulun, fa idzaajaa`a rasuuluhum qudliya bainahum bilqsthi wahum laayudh lamun.
Artinya :
Bagi tiap-tiap umat ada seorang rasul, apa bila datang Rasul mereka, lalu dihukum antara mereka dengan keadiln, sedang mereka tiada teraniaya.
Surat Al Hajji (22) ayat 67
“Li kulli ummatin ja’alnaa mansakanhum naasikuuhu falaa yunaazi’un naka fil amri wad’u ilaa rabbika, innaka la’ala hudam mustaqiim.
Artinya:
"Untuk tiap-tiap umat kami adakan suatu syariat, mereka itu mengamalkannya sebab itu janganlah dibiarkan mereka berbantah-bantah dengan engkau tentang urusan (syariat itu) dan serulah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau atas petunjuk yang lurus."

        Dari ayati-ayat ini (Surat (16) ayat 36; Surat (10) ayat 47), kepada setiap umat atau kepada setiap suku bangsa Allah telah mengutus seorang Rasul untuk menyampaikan agama IslamNya Allah secara langsung. Allah tidak pernah mengutus seorang Rasulpun yang menggunakan bahasa lain dari bahasa umatnya yang dituju, tetapi selalu mengutus rasul dengan bahasa umatnya yang dituju supaya umatnya bisa menerima dengan jelas penjelasan Rasulnya yang menggunakan bahasa mereka sendiri, apa isi agama IslamNya Allah itu. Kepada umat Hindu Allah telah mengutus RasulNya dengan bahasa Hindu. Kepada umat yang berbahasa Ibrani, Allah telah mengutus RasulNya dengan bahasa Ibrani. Kepada umat Cina, Allah telah mengutus RasulNya dengan bahasa Cina. Kepada bangsa Arab, Allah telah mengirim RasulNya dengan bahasa Arab. Kepada umat Jawa, Allah telah mengutus RasulNya dengan bahasa Jawa, begitu seterusnya. Jadi yang punya program untuk meng-Islamkan umat di seluruh muka bumi ini, itu adalah Allah sendiri. Allah sendirilah yang menginginkan agar seluruh umatNya di muka bumi ini beragama Islam semua, tetapi beragama IslamNya Allah, yang oleh Allah telah diselaraskan dengan bahasa dan budaya masing-masing suku bangsanya, sehingga tiap suku bangsa punya syari`at sendiri2 yang ber-beda2, syariatnya biar berbineka tetapi hakikatnya tetap tunggal ika. Jadi kalau sekarang ada kelompok Islam yang ingin memaksakan kehendaknya agar umat sedunia ini memeluk agama Islamnya Nabi Muhammad semua dan syariat panembahnya diseragamkan dengan cara sholat semua, dengan bahasa Arab semua, apakah ini bukannya malah bertentangan dengan kehendak Allah yang menginginkan agar tiap umat punya satu syariat itu ? Ingat Surat (29) ayat 67, Surat (5) ayat 48.

Tetapi tidak sedikit umat yang malah menolak Rasulnya sendiri yang menggunakan bahasanya sendiri ini, dan malah merasa lebih hebat jika bisa mempelajari ajaran Rasul dari suku lain yang menggunakan bahasa lain. Maka dengan petunjuk (agama) ini Allah menyesatkan atau memberi kesesatan kepada siapa yang dikehendaki dan menunjuki atau memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki Surat (16) ayat 36 , Surat (14) ayat 4.

Dari paham Islam lama ini, selain melahirkan jiwa-jiwa Nasionalis sejati, jiwa-jiwa Pancasilais sejati dan jiwa-jiwa Bhinekais sejati, juga melahirkan nalar Sepuh atau nalar Mursid yang menjadi jiwa dari Jawanya orang Jawa. Jiwa dari Jawanya orang Jawa adalah nalar Sepuh atau nalar Mursid ini. Kalau sekarang ada istilah; orang Jawa sudah kehilangan Jawanya, ini berarti orang Jawa sudah kehilangan nalar Sepuhnya atau sudah kehilangan nalar Mursidnya ini. Adanya sekarang ini tinggal orang Jawa yang bernalar muda semua. Nalar muda adalah nalar yang tidak percaya adanya manusia yang masih hidup didunia, bisa ketemu dengan Allah. Bahkan ada nalar muda yang ekstrim yang menyebutkan bahwa manusia yang masih hidup di dunia ini kalau bisa ketemu dengan Allah adalah orang tidak waras, orang gila. Kalau dia ini orang Islam, dia telah kafir terhadap firman Allah dalam Al-Quran;.
Surat Al Israak (17) ayat 72:
“Wa man kaana fii haadzihii a’ma fa huwa fil aakhirati a’ma wa adlallu sabiila.”
Artinya:
"Barang siapa yang buta (hati) didunia ini, niscaya ia buta pula diakhirat dan lebih sesat jalannya."

        Dengan ayat ini, Allah telah mengingatkan kepada kita bahwa orang yang tidak akan tersesat masuknya keakhirat , hanyalah orang-orang yang sewaktu masih hidup di dunia ini sudah pernah bisa menyaksikan sendiri lagi keadaan akhirat itu. Bagi nalar sepuh justru ayat inilah yang memicu semangat ke-Sepuhannya untuk harus belajar membuktikan kenyataan dari akhirat itu selama masih hidup. Dan hanya inilah yang menjadi idola para sesepuh, bukan harta, bukan tahta, bukan pula wanita. Disini digunakan kata "Sepuh" bukan "tua" sebab dikalangan masyarakat Jawa, kata Sepuh ini memiliki kedudukan lebih terhormat dari kata "tua". Kata "tua" konotasinya adalah para lansia yang umumnya sudah jompo atau sudah pikun. Jompo itu sudah tuna motorik, geraknya lamban, jalannya terhuyung, mudah jatuh, kikuk, mudah salah langkah, kebas (buyutan), canggung dan seterusnya. Sedang pikun adalah sudah tuna pikiran, pelupa, bodoh, bingung dan sebagainya. Orang-orang sepuh biasanya terhindar dari penyakit jompo dan pikun ini. Arti kata Sepuh ini diterangkan dalm buku “Wedhatama” karangan dalem KGPAA Mangku Negara IV tembang: Pangkur; pupuh; 12, 13, 14.

Pangkur; pupuh : 12
Sapantuk wahyuning Allah
gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
bangkit mikat reh mangukut
Siapa mendapat wahyu Allah;
segera bergegas mengulah ilmu kesempurnaan
sempurna dalam pemulungan segalanya
Kukutaning jiwangga
Pemulungan kembali jiwa dan raga
Yen mangkono kena sinebut wong sepuh
Jika sudah demikian baru bisa disebut orang Sepuh
Liring sepuh sepi hawa
Artinya Sepuh sudah sepi nafsu
Hawas roroning atunggil
Waspada panunggalnya dwi tunggal

Pangkur; pupuh : 13   
Tan samar pamoring Suksma
Tidak kilaf menyatukannya Suksma
Sinuksmaya winahya ing ngasepi
Dikeluarkannya Suksmanya sialam sepi
Sinimpen telenging kalbu
Disimpan di lubuk hati
Pambukaning warana
Membukanya tirai
Tarlen saking lijep layaping aluyut
Tak lain dari liyep layap luyut
Pindha pesating supena
Seperti lepasnya mimpi
Sumusuping rasa jati
Masuknya rasa jati




Pangkur; pupuh : 14
Sajatine kang mangkana
Sesungguhnya yang demikian itu
Wus kakenan nugrahning Hyang Widhi
Sudah terkena anugerah Tuhan    
Bali alaming asuwung
Kembali ke Alam Kosong
Tan karem karamean
Tidak suka keramaian
Ingkang sipat wisesa winisesa wus
mulih mula mulanira
Yang sifat kekuasaan sudah dikuasai        
kembali keasal mula   
Mulane wong anom sami
Makanya para muda hendaknya

Dari isi tembang-tembang itu orang yang sudah pantas disebut Sepuh adalah orang yang sudah;
1.   Mendapat peringatan dari Allah yang disebutnya wahyu, sehingga tergugah hatinya untuk segera menggeluti ilmu kesempurnaan, agar sempurna hidupnya sebagai manusia dan sempurna matinya sesuai kehendak Allah.
2.   Latihan mengeluarkan sukma dari raga harus memilih tempat yang sepi. Semua usaha ini diusahakan untuk dirahasiakan, ditutup-tutupi jangan dipamer-pamerkan: sembahyangnya, puasanya, amal ibadahnya, zakat fitrahnya, semua jangan dipamerkan. Kalau bisa jangan sampai ada orang tahu, karena semua ini demi dan untuk Allah, supaya bisa diterima biar yang tahu hanya Allah sendiri.
3.   Membukanya tabir yang menghalangi kembalinya Roh Suci ke-asalnya, mesti lewat alam liyep, alam layap, akhirnya baru ke-alam luyut, inilah masuknya Roh Suci ke Alam Sejati (surga)
4.   Kalau sudah sampai ke Alam Sejati, itu pertanda bahwa sudah menerima anugerah pahala dari Tuhan yang paling tinggi, bisa sempurna matinya kembali ke alam kosong.

        Inilah ciri-ciri khas orang yang sudah pantas untuk disebut Sepuh. Dulu sebelum (1965) waktu bangsa Indonesia ini masih menganut paham Islam lama, yang menjadi idolah bangsa adalah ingin menjadi orang Sepuh seperti ini. Orang tidak silau, tidak heran, tidak segan jika melihat orang yang kaya raya, orang yang kedudukannya tinggi, tetapi sangat heran, sangat segan dan sangat hormat kepada para Sepuh seperti ini. Semua orang sadar bahwa semua orang pasti akan mengalami tua, yang akhirnya akan mati. Waktu tua tidak ingin menjadi tua yang jompo dan pikun, waktu mati ingin mati yang sempurna. Makanya waktu masih hidup hampir tidak ada orang yang besar nafsunya untuk mempekaya diri, orang umumnya banyak narimo ( menerima ) apa adanya. Pada umumnya orang banyak yang suka melakukan perbuatan prihatin, suka mengurangi makan, minum, sahat, tidur, dan foya2 lainnya. dsb.dsb.

        Para Sepuh juga tidak setuju dengan pendapat para anti Tuhan (Atheis) yang berpendapat bahwa “Sebelum kita hidup, kita ini berasal dari tidak ada apa-apa. Makanya kalau kita mati nanti juga akan musnah kembali ke tidak ada apa-apa lagi dengan sendirinya, tanpa perlu adanya Tuhan, karena Tuhan memang tidak ada.” Untuk menangkis pendapat ini, para Sesepuh Jawa punya kata-kata mutiara yang bunyinya: “Le ngono ya ngono, ning ora ngono”; "Begitunya itu ya (memang) begitu, tetapi tidak begitu". "Begitunya itu ya (memang) begitu", maksudnya: Memang benar kita ini berasal dari tidak ada apa-apa dan akan kembali ke tidak ada apa-apa lagi. Maksudnya; "tetapi tidak begitu"; yaitu tidak begitu mudah akan berjalan dengan sendirinya, karena bisanya begitu kembali ke-alam tidak ada apa-apa lagi itu harus dilatih dahulu sebelum mati, dan untuk ini sangat membutuhkan pertolongan Tuhan, sebab alam tidak ada apa-apa atau Alam Sejati adalah milik Tuhan. Kalau tanpa latihan tan tanpa pertolongan Tuhan, sesudah mati Roh Sucinya yang belum suci tidak akan bisa diterima kembali ke-asalnya Yang Maha Suci, tetapi akan tetap berkeliaran diluar akhirat yang suci, yaitu di alam sesat atau alam kafiruna. Matinya tidak sempurna, hanya nyawanya pisah dari raganya. Raga akan bisa kembali ke asalnya: yang dari tanah akan kembali ke tanah, yang dari api akan kembali ke api, yang dari air akan kembali ke air, yang dari suasana akan kembali ke suasana. Tetapi Roh Sucinya tidak akan bisa kembali ke-Alam Sejati yang suci, karena masih ketempelan nafsu-nafsu, angan-angan dan perasaan-perasaan yang tidak pernah dilatih untuk ditanggalkan sewaktu masih hidup. Roh suci akan berkeliaran di alam kafiruna seperti dialam mimpi, yang masih ada rasa gembira dan susah, rasa haus, rasa lapar, rasa panas, rasa dingin, rasa khawatir, rasa takut, masih ada rasa ingin makan, ingin minum, ingin sahwat, dsb. Dsb.

        Persamaan pendapat antara paham Islam Lama (nalar Sepuh) dengan pendapat para anti Tuhan (Atheis) yang mempercayai bahwa kita ini berasal dari tidak ada apa-apa akan kembali ke tidak ada apa-apa lagi inilah yang dijadikan alasan bagi paham Islam baru dulu untuk menyebut bahwa Islam lama ini telah kemasukan ajaran PKI. Bukti bahwa agama IslamNya Allah sudah diturunkan dan dianut oleh para Leluhurnya umat di dunia ini sejak ribuan tahun sebelum Al-Quran diturunkan disebutkan dalam Al-Quran :

Surat Al-Baqaroh (2) ayat 131
“Idz qaalAllahuu rabbuhuu aslim, qaala aslamtu li rabbil alamain.”
Artinya :
"Ketika Tuhan berfirman kepada Ibrahim: Islamlah engkau. Jawabannya Saya telah Islam Tuhan semesta alam."

Surat Al-Baqaroh (2) ayat 132
“Wa washshaabihaa Ibrahimu baniihi wa Ya’ qub: Ya baniyya innallahash thafaa lakumuddiina, fa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun.
Artinya: "Ibrahim telah berwasiat kepada anak-anaknya dengan agama itu dan Ya’qub: Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama untukmu, maka janganlah kamu mati, melainkan dalam keadaan Islam"

Surat -Yunus (10) ayat 84
“Wa qaala Musa: Ya qaumi inkuntum amantum billaahi fa’ alaihi taakka luu inkuntum muslimiin.”
Artinya:
"Berkata Musa; Hai, kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, hendaklah kamu bertawakal kepada-Nya, jika kamu orang Islam.."

        Dari ayat-ayat tersebut, Nabi Ibrahim dan putra-putranya, Nabi Yaqub dan putra-putranya, Nabi Musa dan seluruh rakyatnya sudah menjadi orang Islam semua, Islam yang seperti dikehendaki Allah. Perintah shalat belum turun, berarti semua Nabi itu sudah bisa menjadi orang Islam yang tanpa harus shalat. Bukan hanya itu saja yang sudah Islam, tetapi termasuk semua Nabi yang namanya terkisahkan maupun yang tidak, semua adalah orang yang sudah Islam semua. Termasuk Nabi Muhammad sendiri, sudah diangkat menjadi Nabi, yang berarti sudah diakui oleh Allah sebagai orang yang sudah Islam, sebelum perintah shalat turun. Jadi para Nabi itu diangkat menjadi Nabi (Islam) bukan karena shalatnya, tetapi karena akhlak nya yang mulia, karena budipekertinya yang luhur, karena hatinya yang suci. Makanya bagi para Sesepuh tidak ada istilah orang Islam harus shalat. Istilah orang Islam harus shalat ini itu dulu hanya milik paham Islam baru, milik orang-orang yang tergabung dalam partai Masyumi, yang dulu orang NU sendiri saja menentangnya. Apalagi orang-orang PNI, makanya dulu PNI dan NU itu rukun. Dan penolakan istilah; Orang Islam harus shalat, ini diayomi oleh Pemerintah jaman Orde Lamanya Bung Karno. Disini yang dimaksud orang yang sudah Islam itu adalah orang yang menurut Al-Quran sudah bisa membukitkan surat Al-Israak (17) ayat 72 diatas, yaitu pada waktu masih hidup didunia sudah bisa menyaksikan kembali adanya akhirat, sudah bisa menyaksikan sendiri bukti adanya; Inna lillaahi wa inna ilaihi raji`un. Bagi orang Jawa, orang yang sudah Islam atau sudah Mursid, adalah orang yang selama masih hidup sudah bisa diterima oleh Allah kembali ke asal mula hidup, sudah bisa mencoba mencicipi; Kembali ke Alam Kosong. Inilah orang yang sudah Sepuh, sudah Islam, sudah Mursid. Kembali ke Alam Kosong ini, dalam kitab suci Sasangka Jati disebutkan pada akhir sabda yang menyebutkan: Sejatine ora ana apa-apa, kang ana iku dudu; artinya; Sesungguhnya tidak ada apa-apa, yang ada itu bukan. Maksudnya; kalau sesudah mati kita masih melihat sesuatu, masih ada keinginan, masih ketemu orang dlsb, itu tanda bukan yang kita cari. Dalam tembang Macapat Jawa, peringatan untuk kembali ke Alam Kosong ini ditembangkan dengan tembang Dandanggula sebagai berikut;

Ana pandhita akarya wangsit
Ada pendeta membut wasiat
Pindha kumbang angajap ing tawang
Seperti kumbang yang ingin menembus langit
Susuh angin ngendi nggone
Sarang angin dimana tempatnya
Miwah galihing kangkung
Serta teras batang kangkung
Wekasaning langit jaladri
Akhir dari cakrawala
Isine wuluh wungwang
Isi dari bambu bolong ujung pangkalnya
Miwah gigiring pumglu
Serta punggung peluru
Tapake kuntul anglayang
Bekas kaki kuntul melayang
Peksi mabur uluke ngungkuli langit
Burung terbang ketinggiannya melewati langit
Puspitanjrahing tawang
Bunga-bunga bertumbuhan subur dilangit

Semuanya ini jawabannya adalah: Kosong.

        Orang-orang yang sudah Islam, sudah Mursid, ini mempunyai ciri-ciri yang khas, mempunyai tanda-tanda yang khusus, yang mudah dipahami. Orang yang sudah Islam, Islam yang berarti selamat, akan diselamatkan Allah dunia akhiratnya. Didunia maupun di akhirat akan diselamatkan Allah dari gangguan atau godaan para iblis atau setan. Diselamatkan dari sihir, guna-guna, jengges, hipnotis, gendam dlsb. Di akhiratnya sudah pasti dan yakin bahwa ia akan diterima dengan mudah dan dengan senang oleh Allah, untuk segera kembali ke asalnya (Allah). Inilah orang yang matinya disebut mati yang: khusnul-khatimah. Di dunia apa yang dicita-citakan, akan dikabulkan dengan mudah oleh Allah. Orang Jawa menyebutnya dengan kata-kata indah; "Dadi saciptane, teka sasedyane, ana kang kinarsakake." Artinya: Dadi saciptane: yaitu jadi apa yang diciptakan, atau apa yang diciptakan pasti jadi. Teka sasedyane: yaitu datang apa yang diharapkan, atau apa yang diharapkan pasti datang, Ana kang kinarsakake; yaitu ada apa yang diinginkan atau apa yang diinginkan pasti ada.

        Orang yang sudah Islam, akan dimudahkan oleh Allah urusan duniawinya. Tidak usah diminta, Allah telah tahu apa yang diinginkan. Yang tani akan dapat hasil yang baik dan banyak, yang dagang akan laris, yang pengusaha akan sukses, yang pegawai/karyawan akan lancer kenaikan gaji/pangkatnya, dst. Orang yang sudah Islam (selamat), akan diselamatkan Allah dari segala macam musibah dan bencana. Misalnya kalau sedang ada musibah berupa wabah penyakit menular yang ganas, banyak orang yang ketularan penyakit itu, tetapi orang yang sudah Islam akan diselamatkan Allah tidak akan ketularan penyakit yang sedang mewabah itu. Kalau derajat ke Islamannya makin tinggi, keselamatannya akan meluber ke sekelilingnya, mula-mula dari keluargnya yang diselamatkan Allah. Makin tinggi derajat keIslamannya, makin luas daerah yang kena luberan keselamatan, dari satu desa sampai ke satu kecamatan dst. Begitu pula kalau misalnya ada bencana alam berupa gempa bumi yang dahsyat, atau angin ribut yang sangat kuat dan lain sebagainya, maka orang yang sudah Islam akan diselamatkan Allah dari cedera atau mati, rumahnya akan diselamatkan dari kerusakan. Makin tinggi derajat ke Islamannya, makin luas wilayah yang keluberan keselamatan, orangnya selamat bangunannya tidak rusak. begitu seterusnya. Jadi orang yang sudah bisa menjadi orang Islam, dia sudah menjadi juru selamat. Suatu rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya ada yang sudah bisa menjdi orang Islam seperti ini, itu sudah bisa disebut sebagai rumah tangga yang: Sakinah mawadah warohmah. Orang yang sudah Islam, segala tindakannya selalu mendatangkan kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan keselamatan bagi orang banyak, sehingga bisa disebut: Selalu hamamayu hayuning bawana, selalu mengayomi keselamatan dunia. Negara yang punya banyak orang Islam seperti ini, akan menjadi negera yang: Baldatun thayibatun wa rabun ghafur, negara yang gemah ripah loh jinawi. Makanya ada kata-kata mutiara yang menyebutkan : Kalau di dunia ini sudah tidak ada orang Islam satu saja, maka dunia ini akan kiamat. Orang Islam yang bisa menyelamatkan dunia dari ancaman kiamat itu adalah orang Islam yang sudah Mursid, sudah Sepuh seperti ini, yang kalau menurut Al Qur`an sudah bisa berhasil membuktikan surat Al-Israak (17) ayat 72 di atas, bukan orang Islam yang asal sudah rajin shalatnya saja. Karena untuk bisa membuktikan ayat tersebut amat sangat berat dan amat sangat sulit, maka paham Islam baru lalu menyingkiri ayat ini dan lalu membuat aturan baru yang menyebutkan bahwa pahala dan anugerah itu menerimanya besok di akhirat sesudah kita mati, dan ini dipaksakan untuk harus diyakini. Kalau ditanya sorga yang kita inginkan itu yang seperti apa, maka jawabannya ber-macam2, tiap ustadz punya jawaban sendiri2 yang ber-beda2. Bagi nalar Sepuh tidak bisa dipaksa supaya percaya apa lagi yakin terhadap janji yang belum ada buktinya ini. Nalar Sepuh hanya mau percaya dan mau yakin jika sudah ada bukti nyatanya. Percaya atau meyakini janji yang belum ada buktinya ini, kalau nanti diakhirat ternyata tidak ada buktinya, maka kita sendiri yang akan rugi, sebab sudah tidak bisa menuntut kepada siapa dan bagaimana caranya, pada hal sudah tidak bisa diulangi lagi. Beda kalau sudah bisa membuktikan sekarang, kalau ternyata cocok di hatinya ya memang itulah adanya. Kalau ternyata tidak bisa cocok di hati, masih ada kesempatan untuk ganti cara dengan memilih jalan lain. Orang yang bisa menjadi orang Islam penyelamat dunia dari ancaman kiamat, ini bisa dari pengikut Nabi Muhammad, bisa dari pengikut Nabi Isa bisa dari pengikut Sang Budha, bisa dari pengikut sang Kong Hu Cu, bisa dari agama Hindu, bisa dari aktifis Ilmu Sejati, Ilmu Luhung, Ilmu Panunggal, Ilmu Kasampurnan, Ilmu Kasunyatan, bisa dari penganut Sang Suksma Sejati, dan lain seterusnya. Inilah makanya bagi paham Islam lama dan kususnya bagi para Sepuh tidak ada istilah: Orang Islam harus shalat itu. Dan bagi paham Islam lama kususnya para Sesepuh memandang shalat itu sama saja dengan syari`at2 panembah lainnya yang bukan shalat.

        Bagi orang-orang yang sudah bisa diterima oleh Allah menjadi orang Islam seperti ini, itu harus pandai-pandai menjaga dan mempertahankan anugerah pahala keIslamannya, agar jangan sampai keplorot atau dicabut kembali. Syukur-syukur harus selalu ditingkatkan derajatnya sampai ke tingkat yang paling tinggi. Sebab anugerah ke Islaman ini bisa turun derajatnya, bahkan bisa dicabut kembali oleh Allah, jika si penerima anugerah ini melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah. Kalau anugerah itu dicabut, orang akan keplorot menjadi awam lagi. Perilaku yang harus dijaga antara lain: jangan sombong, lebih-lebih melanggar larangan Allah. Sombong itu bisa dari pembicaraan bisa dari perilaku. Sombong bicaranya, misalnya setelah mendapat anugerah dari Tuhan lalu berani meremehkan orang lain, menghina orang lain, menyombongkan diri sendiri, tidak bersyukur kepada Allah, tetapi malah diaku sebagai hasil usaha jerih payahnya sendiri, dlsb. Sombong perbuatannya misalnya setelah merasa mendapat anugerah, lalu mengganti namanya dengan nama yang lebih mentereng. Nama lama atau nama daerah, diganti dengan nama orang Arab atau nama tokoh-tokoh Islam. Pakaian lama atau pakaian daerah, diganti dengan pakaian yang serba putih, atau meniru pakaian para Wali, para `Ulama, para tokoh Islam dlsb. Ini semua akan menyebabkan anugerah itu dicabut kembali oleh Allah, derajat ke Mursidannya keplorot. Lebih-lebih kalau berbuat yang jelas-jelas melanggar larangan Allah, anugerahnya akan kontan dicabut, orangnya akan kontan keplorot kembali menjadi orang awam seperti semula. Berbeda dengan pendapat paham Islam baru. Untuk bisa menjadi orang yang benar-benar Islam, maka nama lama atau nama daerah harus diganti dengan nama orang Arab. Pakaian lama atau pakaian daerah harus diganti dengan pakaian orang Arab, atau pakaian tokoh-tokoh Arab. Terakhir harus rajin dan disiplin tepat waktu shalatnya. Ini sudah betul-betul menjadi orang Islam yang ideal menurut paham Islam baru. Sekali lagi marilah kita saling menghormati adanya keyakinan yang berbeda ini. Bagi para Sesepuh tidak dihormatipun tidak apa, diejekpun tidak akan marah, asal jangan dipaksa untuk harus mengikuti pahamnya. Untuk mempertahankan atau untuk meningkatkan derajat ke Islamannya para Sesepuh tidak memamerkan kelebihannya, tetapi kelebihannya malah ditutup-tutupi, yang dipamerkan dan ditonjolkan malah kekurangannya, kebodohannya, kelemahannya, keringkihannya. Untuk meningkatkan derajat keIslamannya, para Sesepuh giat melatih: sabar, rela, syukur (narimo), jujur, menyayangi dan menghormati orang lain, merendahkan diri, jangan menyinggung perasaan orang lain, jangan menyusahkan atau merepotkan orang lain, jangan sampai dibenci orang, jangan sampai punya musuh dan seterusnya. Dari sinilah lahirnya Budipekerti yang luhur, Dan dari sini pula Allah mengangkat seseorang menjadi orang Islam, orang Musrid, orang Sepuh, bukan karena shalatnya. Bagi para Sesepuh, penembah itu tidak hanya shalat, tetapi banyak cara , sehingga tiap suku bangsa punya cara sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Menurut para Sesepuh, panembah yang bisa diterima Allah itu yang tidak ditonjol-tonjolkan, cukup sinimpen telenging kalbu (Wedhatama) artinya cukup disimpan dalam lubuk hati. Inilah sebabnya maka para Leluhur dulu dalam mendidik anak dan menyelenggarakan Pendidikan Nasional, lebih mengutamakan Pendidikan Budipekertinya dari pada memaksakan shalatnya. Pemaksaan shalat di sekolah-sekolah adalah melanggar hak asasi dan malah memberi peluang besar lahirnya jiwa-jiwa yang fanatis, ekstrimis bahkan teroris dan menghapus jiwa-jiwa Nasionalis sejati, jiwa-jiwa Pancasilais sejati, jiwa-jiwa Bhinekais sejati. Hilangnya Pendidikan Budiperkerti di sekolah-sekolah memberi peluang besar lahirnya jiwa-jiwa serakah dan kebobrokan moral. Jiwa-jiwa serakah jurusannya ke koruptor, penipu, pembegal, pembobol, penggedor dan sebagaiya. Kebobrokan moral jurusannya ke pelecehan seksual, pemerkosaan, sodomi, suka meremehkan orang lain, suka membuat onar, suka tawuran, merasa dirinya paling benar, dan sebagainya. Allah juga mengingatkan kita agar kita menekuni kitab kita masing-masing, Al-Quran menyebutkan:

Surat Al-Bakaroh (2) ayat 121
Alladziina aatainahumul kitaaba yatluunahuu haqqa tilaawatihii, uulaa ‘ ika yu’minuunabihi, wamayyakfurbihii faa uulaa’ika humul khaasiruun.”
Artinya:
"Orang-orang yang kami turunkan kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benarnya membaca. Mereka itu beriman kepada kitab itu; dan siapa yang ingkar akan dia (kitab itu), mereka itulah orang-orang merugi.

        Allah yang Maha Kasih dan Maha Adil telah menyebarluaskan agama satu-satunya secara langsung supaya adil dengan bahasa mereka masing-masing supaya jelas. Tetapi sayang, bahwa ternyata banyak umat yang malah mengingkari kitab jatahnya sendiri dan merasa lebih suka dan lebih bangga jika mempelajari kitab jatah suku bangsa lain yang menggunakan bahasa lain pula. Mempelajari kitab jatahnya sendiri yang ditulis dengan tulisan dan bahasanya sendiri saja masih banyak menemui kesulitan. Apalagi kalau mempelajari kitab jatah suku bangsa lain yang ditulis dengan tulisan dan bahasa lain pula, maka pasti akan rugi, sebab harus mempelajari huruf dan bahasa suku bangsa lain dulu. Jelas akan rugi waktu, rugi tenaga, dan rugi pikiran. Tetapi memang sudah menjadi tabiatnya bahwa manusia itu suka mencari-cari kesulitan, suka coba-coba melanggar aturan, suka coba-coba menentang larangan, suka nyrempet-nyrempet bahaya dan seterusnya. Hanya orang-orang yang punya nalar Sepuh saja yang suka menaati aturan, suka menjauhi larangan, suka menghindari bahaya dan seterusnya. Makanya salut kita kepada umat Hindu yang mempelajari Wedanya, umat Buddha yang membaca-baca Tripitakanya, umat Nasrani yang menekuni Injilnya, orang Jawa yang menggeluti Sasangka Jatinya, orang-orang Arab yang mengkaji Al-Qurannya, dst. Mari kita berlomba dalam kebaikan, karena kebaikan adalah syarat mutlak untuk bisa diangkat menjadi orang Islam, orang Mursid, menjadi Sesepuh. Jangan serakah orang lain dipaksa supaya mempelajari kitabnya sendiri, dan kitab orang lain diperoloknya.

        Agama Islamnya Allah yang seharusnya abadi keasliannya untuk sepanjang masa ini, selalu saja terancam berubah atau rusak akibat dari ulah para ahli kitabnya yang tidak mendapat petunjuk tetapi malah mendapat kesesatan (14) 04, (16) – 36, sehingga petunjuk-petunjuk Allah tidak lagi bisa melahirkan orang-orang Mursid. Makanya Allah mengingatkan dalam Al-Qur`an:

Surat Ali Imran (3) ayat 69 :
“Waddat thaa’ifatun min ahlil kitaab lauyudlilluunakum, wa maa yudlil luuna illaa anfusahum wa maa yasy’uruun.
Artinya:
"Segolongan diantara orang-orang ahli kitab bercita-cita hendak menyesatkan kamu dan tiadalah mereka menyesatkan (orang lain) kecuali diri mereka sendiri, tetapi mereka tiada sadar."

Surat Ali Imran (3) ayat 70 :
“Yaa ahlal kitaab, lima takfuruuna bi aayaatillaahi wa antum tasyhaduun.”
Artinya:
"Hai, orang-orang ahli kitab, mengapa kamu kafir akan ayat-ayat Allah, sedangkan kamu mempersaksikannya.”

Surat Ali Imran (3) ayat 71 :
“Yaa ahlal kitaab, lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’laamun.
Artinya:
"Hai, orang-orang ahli kitab, mengapa kamu percampurkan yang haq dengan yang batil, dan kamu sembunyikan yang haq itu, sedangkan kamu mengetahuinya."

        Jadi banyak ahli kitab yang sengaja ingin menyesatkan orang lain, dengan maksud jika dia tersesat supaya banyak temannya.Banyak ahli kitab yang mengkafiri petunjuk2 Allah, karena pelaksanaannya sangat berat dan sangat sulit, maka di-karang2nya aturan atau cara lain. Banyak ahli kitab yang me-nukar2 yang haq dengan yang batil, untuk mencari kemudahan atau keringanan, dst. Ada yang tendensinya untuk membuat agamanya supaya lebih hebat dan lebih unggul dari pada agama2 lainnya. Semua ini dilakukan untuk memenuhi nafsu permusuhannya, akibat dari kesesatan yang telah diterimanya. Sebab orang yang mendapat petunjuk, pasti akan menuruti nafsu ingin rukun dan damainya Akibat dari ulah para ahli kitab (dari masing-masing agama) inilah yang meyebabkan rusaknya keaslian agama Allah. Akibat selanjutnya agama Allah ini lalu terpecah belah menjadi beberapa golongan agama yang berbeda-beda paham dan kepercayaannya. Ajaran Rasul yang satu pahamnya menjadi jauh bedanya dengan ajaran Rasul lainnya. Bahkan dari intern ajaran seorang Rasul saja, sekarang telah terpecah belah menjadi beberapa golongan yang berbeda-beda pahamnya. Hanya paham Islam lama yang tidak pernah mengalami perubahan, bahkan antar Rasul pun akan tetap sama, tidak pernah terpecah belah, tidak pernah berubah. Sebab kalau ada ahli kitab yang ingin mengubah dan ingin memaksakan kehendaknya, para penganut paham Islam lama sudah tahu dan tidak akan mau dipaksa. Hanya pada Pemerintahan Orde Baru ini saja para penganut paham Islam Lama tidak berani menentang, sebab Pemerintah sendiri malah ikut membantu pemaksaan kehendak ini. Rupa-rupanya Pemerintahan Orde Reformasi inipun tetap melestarikan sepak terjang Pemerintahan Orde Baru untuk tetap membantu berkembangnya paham Islam baru ini. Baru wacananya saja ingin mengadakan Revolusi Mental, tetapi kalau paham Islam lama ini tidak diberi kesempatan untuk bisa dikenal kembali oleh masyarakat, maka wacana itu pun hanya akan tetap tinggal wacana yang kosong, yang tidak akan bisa merubah watak bangsa ini..

        Apabila agama Allah ini telah dirusak oleh para ahli kitabnya sendiri sehingga sudah tidak bisa melahirkan orang-orang Mursid, orang-orang Islam, yang bisa menyelamatkan dunia dari ancaman kiamat, maka tanda-tanda kiamatpun akan diturunkan Allah ke dunia berupa bencana alama seperti pemanasan global, air laut naik daratan terancam tenggelam, banyak gempa bumi yang dahsyat, tanah longsor, tanah terban, banyak angin ribut yang kuat, banyak banjir bandang, banyak kebakaran, banyak wabah penyakit baru yang gansas, banyak peperangan, banyak kerusuhan dan kejahatan, banyak kendaraan darat bertumburan, kendaraan laut bertenggelaman, kendaraan udara berjatuhan, dan sebagainya. Dalam hal yang seperti ini hanya orang-orang yang sudah Islam atau sudah Mursid yang akan diselamatkan Allah dari segala bentuk bencana dan musibah itu. Karena Allah Maha Kasih dan Maha Sayang, setiap kali agamaNya telah dirusak umat sehingga tidak bisa melahirkan orang-orang Mursid baru, maka Allah akan mengutus Rasul baru ke dunia untuk mengembalikan kebenaran agama Allah itu. Allah tidak akan dan tidak mungkin mengutus Rasul baru yang mengajarkan agama baru yang tidak sama dengan agama para Rasul sebelumnya. Bagi para umat dan para ahli kitab yang tidak mendapat petunjuk tetapi malah mendapat kesesatan pasti akan menentang mentah2 atau mungkin malah akan memusuhi setiap kali ada Rasul baru yang diturunkan ke dunia. Ini adalah suatu rutinitas klasik yang selalu timbul jika ada Rasul baru. Hanya penganut paham Islam lama saja yang selalu tenang, sebab sudah hafal isi agama Allah yang sudah ribuan tahun digeluti orang secara turun temurun. Tinggal diteliti saja ajaran Rasul baru itu, kalau sama dengan agama Allah yang sudah ada, kita wajib menghormati dan mensyukuri. Tetapi kalau mengajarkan agama baru yang tidak sama dengan agama Allah yang sudah ada, maka kita wajib menolak jika kita diajak mengikutinya. Bagi orang yang menolak mentah-mentah tanpa pertimbangan atau malah memusuhi, ini adalah orang-orang yang mengkafiri petunjuk Allah dalam Al-Quran (2) – 136, (3) – 84, (4) – 163, serta surat Al Furqn sepeti di bawah ini:
sSurat Al Furqan (25) ayat 51 :
“Wa lausyi’naa la ba’atsnaa fii kuii qaryatin nadziira.”
Artinya:
"
Jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami utus seorang (Rasul) yang memberi peringatan pada tiap-tiap negeri."

        Kapan Allah menghendaki mengutus Rasul baru ? Yaitu kalau agama Allah sudah dirusak umat. Isi ajarannya akan tetap sama dengan isi ajaran para Rasul yang lebih dahulu. Sebenarnya masih banyak hal-hal penting lainnya yang belum ditulis, antara lain bagaimana para Sesepuh menafsiri Rukun Islam dan lain-lainnya, tetapi untuk sekedar bisa tahu bahwa penafsiran Islam itu ada dua golongan besar yang berbeda, yang masing-masing mengaku yang benar, maka uraian ini pun cukuplah kiranya untuk memberi gambaran, bahwa paham Islam baru yang telah berhasil memaksakan kehendaknya sehingga paham Islam lama punah ini hasilnya telah membuat punah pula jiwa-jiwa Nasionalis jiwa-jiwa Pancasilis dan Budipekerti luhur, maka apa salahnya kalau paham Islam lama ini diberi kesempatan untuk bangkit kembali agar dikenal oleh masyarakat lagi. Setelah masyarakat tahu, biar masyarakat membandingkan sendiri dan memilih sendiri, mana yang cocok dengan nalarnya, jangan sampai ada pemaksaan lagi. Mereka punya hak asasi yang harus kita hormati.
 Bagi para pembaca yang sependapat dengan isi tulisan ini, penulis ingin mengajak untuk membentuk suatu kerukunan yang kira2 pantas untuk diberi nama Kerukunan Kasepuhan. Pesertanya tidak harus orang yang sudah tua, tetapi para muda-mudi yang nalarnya sependapat dengan nalar Sepuh ini, bisa menjadi warga, bahkan bisa menjadi kadernya. Sebab jaman dulu banyak muda-mudi yang bernalar Sepuh, dan banyak pula orang2 tua yang nalarnya tetap muda seperti sekarang ini. Penulis menunggu tanggapan dari para pembaca.

1 komentar: